Demikian hal itu dikemukakan oleh Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso usai penandatangan kerjasama dengan Pertamina di Kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (4/2/2010).
"Kita investasikan dana hasil dari hilir untuk perkuat hulu dalam rangka stabilitas dan ketersediaan pasokan gas," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasalnya, menurut Hendi, hal itu bisa mengganggu jalannya proses negosiasi yang saat ini sedang dalam proses. "Jangan dululah, nanti kalau sampai muncul namanya bisa mengganggu negosiasi," ucapnya.
Ia mengatakan, uang sebanyak Rp 3,4 triliun itu hanya modal awal untuk akuisisi. Jika diperlukan, angkanya bisa naik hingga 5 kali lipat. Tambahan dananya, bisa dicari melalui pinjaman perbankan.
"Bisa meningkat sekitar 5 kali lipat, mungkin sekitar Rp 10-15 triliun," imbuhnya.
Menurutnya, akuisisi perusahaan produsen gas tersebut dilakukan untuk menambah pasokan gas perseroan yang saat ini jaringan distribusinya belum terisi penuh.
"Kita akan masuk minoritas dulu saja, yang penting keamanan pasokan dulu saja," katanya.
(ang/dnl)











































