Demikian disampaikan oleh Bank Indonesia (BI) dalam laporan tinjauan kebijakan moneter bulan Februari 2010 yang dikutip detikFinance, Sabtu (6/2/2010).
"Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp9.153 per dolar AS, level terkuat sejak Oktober 2008, meskipun kemudian bergerak melemah dikarenakan sentimen negatif akibat masih tingginya ketidakpastian di sektor eksternal. Pergerakan nilai tukar rupiah selama Januari 2010 berdampak pada meningkatnya volatilitas dari 0,20% (posisi Desember 2009) menjadi 0,96%," tutur laporan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun begitu, BI mengatakan ada tekanan yang sempat terjadi pada akhir bulan antara lain dipengaruhi oleh sentimen negatif yang terjadi di pasar keuangan global.
Sentimen negatif tersebut muncul setelah dirilisnya kerugian JP Morgan dan kebijakan sektor keuangan AS, besarnya defisit fiskal beberapa negara di kawasan Eropa, dan keputusan otoritas moneter India dan China menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) .
Menurut BI, persepsi risiko investasi di Indonesia masih relatif baik sejalan dengan relatif terjaganya ekspektasi positif terhadap nilai tukar rupiah.
"Meski sempat mengalami peningkatan sebagai respons dari kondisi pasar keuangan global yang kembali tertekan, secara umum indikator risiko investasi di Indonesia relatif stabil dibandingkan dengan Desember 2009 dikarenakan fundamental perekonomian dometik yang masih solid dan upgrade rating Indonesia oleh Fitch dari BB menjadi BB+. Hal tersebut memberikan insentif terhadap prospek investasi di Indonesia," kata laporan tersebut.
(dnl/dnl)











































