Penutupan Akhir Pekan
Indeks Turun Tajam 18,554 Poin
Jumat, 30 Apr 2004 16:20 WIB
Jakarta - Pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (30/4/2004), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) kembali turun sebanyak 18,554 poin menuju level 783,413. Penurunan indeks dipicu aksi investor yang melepas saham-saham unggulan dan pertambangan akibat akumulasi sentimen negatif di pasar. Indeks LQ-45 yang memuat 45 saham yang paling aktif diperdagangkan turun 4,464 poin pada level 170,650, Jakarta Islamic Index (JII) turun 4,499 poin pada level 130,482, Indeks Papan Utama (MBX) turun 5,652 poin pada level 212,667 dan Indeks Papan Pengembangan (DBX) turun 3,181 poin pada level 178,224.Perdagangan di pasar reguler mencatat transaksi sebanyak 14.596 kali pada volume 3,256 juta lot saham senilai Rp 1,012 triliun. Sebanyak 25 saham yang mencatat kenaikan harga, 94 saham mengalami penurunan harga dan 269 saham lainnya stagnan.Saham-saham yang mengalami penurunan harga terbesar (top loser) di antaranya International Nickel (INCO) turun Rp 800 mejadi Rp 34.000, Telkom (TLKM) turun Rp 350 menjadi Rp 8.050, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 350 menjadi Rp 14.600, Indosat (ISAT) turun Rp 200 menjadi Rp 3.975, Bank BRI (BBRI) turun Rp 100 menjadi Rp 1.725, Astra Internasional (ASII) turun Rp 100 mejadi Rp 5.700, Bank BCA (BBCA) turun Rp 75 menjadi Rp 3.900, Timah (TINS) turun Rp 75 menjadi Rp 2.325 dan Bumi Resources (BUMI) turun Rp 50 menjadi Rp 475.Sedangkan saham-saham yang mencatat kenaikan harga tertinggi (top gainer) antara lain Bakrie Sumatera Plantation (UNSP) naik Rp 50 menjadi Rp 1.175, HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 50 menjadi Rp 5.100, Adira Dinamika Multifinance (ADMF) naik Rp 25 menjadi Rp 2.825, Perusahaan Gas Negara (PGAS) naik Rp 25 menjadi Rp 1.300 serta London Sumatera (LSIP) naik Rp 25 menjadi Rp 1.550.Turunnya indeks pada penutupan akhir pekan ini karena banyaknya sentimen negatif, baik dari dalam maupun luar negeri. Analis menilai, sentimen negatif dari dalam negeri masih seputar kerusuhan Ambon dan melemahnya nilai tukar rupiah.Namun demikian, sentimen dari luar negeri sangat mendominasi penurunan indeks seperti rencana The Fed menaikkan suku bunga dan kebijakan Cina yang menahan laju pembangunannya hingga membuat harga-harga saham pertambangan dan emas turun. Akibatnya, sejumlah indeks regional terpuruk, yang juga berdampak pada penurunan indeks BEJ.
(ani/)











































