Bursa Dunia Terpukul Akibat Kebijakan Cina dan AS
Sabtu, 01 Mei 2004 11:41 WIB
Jakarta - Bursa-bursa utama dunia, baik untuk bursa Wall Street maupun bursa kawasan di Asia Pasifik mengalami tekanan hebat pada akhir pekan ini. Hal ini sebagai dampak akibat adanya kebijakan Cina yang akan memperlambat pertumbuhan ekonominya dengan cara menaikkan suku bunganya dan kebijakan AS yang juga akan menaikkan suku bunga The Fed.Pelaku pasar di AS merasa terpukul oleh keluarnya data perekonomian AS yang dinilai cukup mengecewakan sehingga bisa membuat Bank Sentral AS mempercepat kenaikan suku bunga The Fed. Data perekonomian AS yang baru saja dikeluarkan ternyata mengecewakan banyak pihak. Tercatat untuk pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal pertama 2004 hanya 4,2 persen atau dibawah perkiraan banyak kalangan sebesar 5 persen.Sementara investor di Asia juga mengalami kecemasan yang sama, setelah PM Cina Wen Jiabao pada Kamis lalu,(29/4/2004) mengatakan, bahwa pemerintahnya akan mengambil langkah tegas guna memperlambat pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Dimana hal ini dilakukan agar bisa menekan perekonomian Cina yang memanas (overheated).Pasalnya, pertumbuhan ekonomi Cina per kuartal I-2004 telah mencapai 9,7 persen, kondisi ini dikhawatirkan akan membuat ekonomi Cina semakin memanas jika tidak dilakukan pengereman. Sedangkan pada tahun 2003 pertumbuhan ekonomi Cina sebesar 9,1 persen. Dengan keluarnya kebijakan memperlambat ekonominya tahun ini pertumbuhan ekonomi Cina diperkirakan turun menjadi 8,5 persen.Dengan kebijakan Cina tersebut sebenarnya akan lebih banyak memukul saham-saham manufaktur dan pertambangan, karena kebutuhan Cina terhadap beberapa produk seperti baja dan nikel akan dikurangi. Namun kenyataannya selain saham pertambangan dan manufaktur saham-saham unggulan juga terseret turun. Bursa-bursa utama dunia yang terpukul pada penutupan akhir pekan Jumat,(30/4/2004) adalah Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 46,70 poin pada level 10.225, Indeks Nasdaq turun 38,63 poin pada level 1.920, Indeks Nikkei 225 turun 242,5 poin pada level 11.761, Indeks Hang Seng turun 62,62 poin pada level 11.942, Indeks Kuala Lumpur (KLSE) turun 11,51 poin pada level 838,21. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) juga turun 18,554 poin pada level 783,413 terkena imbas sentimen eksternal diatas."Ada tanda-tanda tentang meningkatnya ketidakpastian di Cina dan juga ekonomi AS. Investor tidak ingin mengambil risiko pada saat pasar tutup," kata Kenichi Azuma, equity strategist Cosmo Securities seperti dilansir Reuters, Sabtu,(1/5/2004).Menurut Azuma, pelaku pasar selanjutnya akan mencermati kapan dan seberapa besar kenaikan tingkat suku bunga AS disamping juga melihat bagaimana Cina akan mengatasi ekonominya.Sementara untuk bursa di Eropa juga mencatat penurunan. Disamping kedua faktor diatas, pelaku pasar di Eropa juga mencermati kenaikan laba Deutsche Bank yang dinyatakan belum berkesinambungan. Tercatat FTSE sempat turun 0,52 persen pada 996,86 dan DJ Euro Stoxx turun 0,76 oersen pada 2.785."Dengan melihat laporan angka GDP, maka tekanan iflasi nampaknya akan berlanjut. Indeks PCE masih diatas angka tahun lalu," kata John caldwell, Chief Investment McDonald Financial Group.
(ir/)











































