Rating Perusahaan Sektor Riil Terancam Inflasi Tinggi di 2010

Rating Perusahaan Sektor Riil Terancam Inflasi Tinggi di 2010

- detikFinance
Rabu, 24 Feb 2010 11:51 WIB
Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mewaspadai tingginya tingkat inflasi tahun 2010 yang diperkirakan akan mempengaruhi peringkat atau rating perusahaan yang bergerak di sektor riil.

Menurut Assistant Vice President Corporate Ratings Pefindo Niken Indriarsih, tingkat inflasi pada tahun ini kemungkinan akan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu terutama bila Pemerintah juga menaikkan harga BBM dan atau tarif dasar listrik.

"Bila hal ini terjadi suku bunga juga akan meningkat dan hal lni bisa mempengaruhi sektor properti terutama bila sektor perbankan juga menaikkan suku bunga KPR," katanya dalam media forum di kantornya, Atrium Setiabudi, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Rabu (24/2/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, bila sektor properti sudah terpengaruh, maka sektor konstruksi juga bisa terpengaruh kecuali bila Pemerintah mempercepat pembangunan di sektor infrastruktur.

Ia menambahkan, untuk tahun 2010 ini, bila perekonomian global pulih lebih cepat kemungkinan beberapa perusahaan akan kembali melakukan ekspansi usaha yang sempat tertunda selama krisis.

"Harga komoditas mungkin akan meningkat didorong oleh meningkatnya permintaan yang akan menjadi berita baik bagi perusahaan-perusahaan yang mengandalkan sumber daya alam seperti pertambangan dan perkebunan, serta pelayaran terutama bila perdagangan dunia juga meningkat," jelasnya.

Namun di sisi lain, bila harga komoditas meningkat, harga bahan baku untuk sektor manufaktur juga meningkat, yang akan menjadi berita buruk bila perusahaan-perusahaan tersebut tidak berhasil melakukan efisiensi biaya dan atau gagal menyesuaikan harga jual.

Ia mengatakan, pada tahun ini juga, perusahaan-perusahaan di sektor manufaktur terutama yang bergerak di sektor tekstil, alas kaki, elektronik, dan makanan-minuman, juga akan menghadapi ancaman perdagangan bebas ASEAN-China (AC-FTA).

Pada tahun 2009, Pefindo telah melakukan peringkat atas 60 perusahaan di luar sektor institusi keuangan, naik 22 persen dari 49 perusahaan pada tahun 2008.

Untuk distribusi peringkat selama tahun 2008 dan 2009, kategori peringkat A mendominasi (40 persen dan 49 persen pada tahun 2009 dan 2008), diikuti oleh kategori idBBB (33 persen dan 29 persen) pada tahun 2009 dan 2008, dan idAA (18 persen untuk tahun 2008 dan 2009).

Pada tahun 2009, perusahaan-perusahaan yang diperingkat oleh Pefindo bergerak dalam 22 industri dimana sebagian besar adalah di sektor properti (15 persen) diikuti oleh perkebunan (13 persen), dan pengolahan air bersih (8 persen).

Sedangkan pada tahun 2008, Pefindo melakukan peringkat atas perusahaan-perusahaan yang bergerak, dalam 20 industri yang sebagian besar adalah sektor konstruksi (12 persen), diikuti oleh properti dan kimia, masing-masing 10 persen.

Pada tahun 2009, peringkat baru yang ditetapkan oleh Pefindo berjumlah 26 perusahaan, naik dari 11 perusahaan pada tahun 2008. Adapun selama tahun 2009, Pefindo menaikkan peringkat empat perusahaan dan menurunkan peringkat lima perusahaan.

Selain itu, 25 perusahaan pada tahun 2009 tidak mengalami perubahan peringkat tetapi lima di antaranya mengalami perubahan outlook.

Faktor-faktor yang menyebabkan penurunan peringkat antara lain dampak krisis finansial global yang dialami oleh perusahaan di industri pelayaran, tingkat leverage finansial yang lebih agresif yang dialami oleh beberapa perusahaan yang diperingkat Pefindo di industri telekomunikasi dan makanan-minuman, serta masalah likuiditas yang dialami oleh beberapa perusahaan di industri pelayaran dan telekomunikasi.

Sedangkan faktor-faktor yang mendukung kenaikan peringkat antara lain kinerja bisnis yang membaik, profil finansial yang membaik, dan jaminan dari induk perusahaan.

(ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads