Matahari Dept Store Dapat Pinjaman Rp 3,25 Triliun

Matahari Dept Store Dapat Pinjaman Rp 3,25 Triliun

- detikFinance
Senin, 01 Mar 2010 18:26 WIB
Matahari Dept Store Dapat Pinjaman Rp 3,25 Triliun
Jakarta - PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) memperoleh komitmen sindikasi pinjaman CIMB Niaga dan Standard Chartered Bank senilai Rp 3,25 triliun. Dana tersebut akan dipinjamkan kepada Meadows sebesar Rp 2,8 triliun.

"Pinjaman dari kedua bank, baru akan keluar kalau rencana transaksi ini berjalan. Jumlahnya Rp 3,25 triliun ditambah SBI 6%," ungkap Kepala Bapepam-LK Fuad Rahmany di kantornya, Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (1/3/2010).

Dari komitmen pinjaman sebesar Rp 3,25 triliun tersebut, akan dipinjamkan kembali kepada Meadows Indonesia, anak usaha Meadows Asia Capital (MAC) sebesar Rp 2,8 triliun dengan SBI 6,5%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai catatan, MAC merupakan perusahaan patungan antara PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) dan CVC Partners dengan kepemilikan saham 20% dan 80%. Meadows Indonesia nantinya akan membeli seluruh kepemilikan saham MPPA di LPPF.

Saat ini, MPPA merupakan pemilik 2.648.220.000 saham (90,76%) saham LPPF. MPPA berencana melakukan restrukturisasi kepemilikan sahamnya di LPPF dengan cara menjual kepada Meadows Indonesia. Namun MPPA memiliki 20% saham di Meadows, sehingga MPPA masih memiliki sebagian saham LPPF secara tidak langsung.

Nah, untuk membeli 90,76% saham LPPF milik MPPA, Meadows Indonesia akan memperoleh pinjaman dari LPPF senilai Rp 2,8 triliun plus SBI 6,5%, sedangkan sisa dana sebesar Rp 450 miliar akan digunakan untuk keperluan internal LPPF.

"Komitmen pinjaman ini, baru akan dikucurkan setelah MPPA dan LPPF mendapat persetujuan pemegang saham atas transaksi tersebut," ujar Fuad.

Sementara itu, Bapepam juga meminta manajemen MPPA menggelar paparan publik untuk menjelaskan secara lebih detil mengenai rencana transaksi ini. Oleh sebab itu, Bapepam meminta MPPA menunda RUPS Luar Biasa yang rencananya digelar pada 7 Maret 2010.

"Dari keterbukaan mereka, saya pikir itu tidak cukup.Hanya bilang, penggunaan dana untuk mengembangkan sektor ritel dan hypermart. Investor perlu tahu lebih detail. Buat business plan untuk apa saja uang itu. Jadi RUPS sebaiknya ditunda. Kami akan kirim surat ke mereka hari ini," ucapnya.

 

 

(dro/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads