Demikian disampaikan Menteri BUMN Mustafa Abubakar saat ditemui di kantornya, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (12/3/2010).
"Sebisa mungkin tidak dipotong, karena membawa implikasi terhadap pemotongan akan cukup besar, utamanya pengangguran. Besar sekali dampak ekonominya," paparnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita akan ketemu PGN Rabu atau Kamis depan, untuk evaluasi dan untuk opsi apa-apa aja.Β Dari yang sudah ada, memang 20 persen dipotong untuk industri keramik," kata Mustafa.
Menurutnya, alternatif untuk mengatur ulang kontrak ekospor gas PGN ke beberapa negara, demi memprioritaskan kebutuhan dalam negeri juga menjadi pembahasan yang akan diadakan kementerian bersama BUMN gas tersebut.
"Kita evaluasi sejauh mana keterikatan kontrak bisnisnya untuk ekspor. Sejauh mana peluang juga untuk impor. Kalau itu masih visible itu enggak masalah," ungkapnya.
Pilihan untuk impor gas memang telah diungkapkan Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh sebelumnya. Ada dua pilihan negara bidikin impor, yaitu Qatar dan Iran. Kedua negara ini memiliki harga yang terjangkau bagi pemerintah. Namun tidak semua industri sanggup membelinya di harga rata-rata US$ 5-6 per mmscfd.
"Qatar hanya sekitar US$ 1 per mmscfd. Kalau dibawa ke sini plus-plus menjadi masih sekitar di bawah US$ 6 (per mmcfd) untuk industri. Agak mepet memang untuk industri pupuk dengan harga gas US$ 5," jelasnya.
Industri pupuk baru bisa berjalan opimal saat beroperasi, lanjutnya, jika harga gas US$ 5. Untuk industri listrik sendiri, masih sekitar US$ 6-7 per mmcfd.
(wep/ang)











































