"Untuk tahun ini akan tumbuh 15% revenue. Bottom line masih belum, karena ada banyak risiko," kata Presiden Direktur PT XL Axiata Tbk Hasnul Suhaimi di Gedung Graha XL, Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (19/3/2010).
Demi meningkatkan pendapatan, perseroan tidak akan merambah bisnis lain, atau menambah lini bisnis CDMA. EXCL tetap akan fokus pada bisnis intinya, GSM, karena masih banyak potensi yang belum tergarap pada jaringan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk belanja modal (capital expenditure) tahun 2010, perseroan menganggarkan sekitar US$ 400-450 juta. Dana didapatkan seluruhnya dari kas internal dan digunakan untuk peningkatan jaringan dan peningkatan kapasitas menara BTS yang mencapai 8000 tower.
"Pengeluaran modal akan lebih selektif karena ekspansi. Jaringan dan peningkatan yang telah selesai," ungkapnya.
Hasnul menambahkan, peningkatan jaringan dan kapasitas dilakukan dengan tidak menambahkan jumlah menara yang dimiliki EXCL. Peningkatan lebih ditekankan pada optimalisasi layanan data, hingga pelanggan dapat memanfaatkan dengan maksimal.
Sampai saat ini, jumlah menara yang dipunyai perseroan mencapai 8000 tower. Kurang dari setengahnya, 4300 tower diperuntukan untuk operator lain, dengan sistem sewa.
"Kita hanya optimalisasi yang ada. Tidak ada penambahan tower, dari posisi saat ini yang 8000 tower," imbuhnya.
Mengenai polemik masuknya investor asing ke bisnis menara telekomunikasi, Hasul menyerahkan sepenuhnya keputusan pada pemerintah. Meskpun pada awalnya ada perbedaan pendapat, antara BKPM dan Menkominfo, yang tetap menginginkan, kepemilikan tower hanya untuk investor dalam negeri.
"Apapun keputusan pemerintah kita ikutin. Kalau XL kan harus punya, karena kita operator," imbuhnya.
(wep/qom)











































