"Recapital akan menjadi standby buyer (pembeli siaga) rights issue kami," ungkap Direktur Utama BEKS, Ghandi Ganda Putra usai RUPS di kantornya, Jl Thamrin, Jakarta, Jumat (19/3/2010).
Rencananya, BEKS akan menggelar rights issue dengan kisaran perolehan dana antara Rp 300 miliar hingga Rp 500 miliar. Saat ini, perseroan sedang memproses rights issue tersebut di Bapepam-LK.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penunjukkan Recapital sebagai standby buyer rights issue merupakan kelanjutan dari rencana pengambilalihan saham BEKS oleh perusahaan yang dipimpin oleh Rosan P Roslani tersebut.
Semula, Recapital berencana mengambil alih seluruh saham BEKS milik keluarga Widjaja melalui mekanisme akuisisi. Namun skema ini diubah, Recapital tidak masuk melalui mekanisme akuisisi melainkan melalui proses rights issue.
Saat ini komposisi kepemilikan saham BEKS terdiri atas Lunardi Widjaja sebanyak 432.500.000 saham (50,66%), Lusiana Widjaja sebanyak 123.750.000 saham (14,49%), Irawati Widjaja 40.600.000 saham (4,76%), Sinthyawati Widjaja 40.600.000 saham (4,76%), Setiawan Widjaja 39.265.000 saham (4,6%). Sisanya sebanyak 177.035.000 saham (20,74%) milik publik.
Total kepemilikan keluarga Widjaja sebanyak 676.715.000 saham atau setara dengan 79,26% dari total jumlah saham BEKS sebanyak 853.750.000 saham.
Tadinya, Recapital akan membeli 79,26% saham BEKS di harga Rp 150 per saham atau totalnya sekitar Rp 101, 507 miliar. Namun terjadi perubahan rencana.
Akhirnya diputuskan bahwa Recapital akan masuk menjadi pemegang saham BEKS melalui mekanisme rights issue. Dengan cara ini, keluarga Widjaja tidak akan kehilangan BEKS meskipun dipastikan akan terdilusi.
Mekanisme rights issue juga membuat adanya dana segar masuk ke perusahaan, suatu cara yang lebih baik ketimbang melalui mekanisme penjualan saham yang hanya akan masuk kantung keluarga Widjaja.
Hal itu diakui oleh Gandhi. Menurutnya, dengan adanya dana segar Rp 300-500 miliar akan dengan serta merta membuat posisi rasio kecukupan modal BEKS cukup tinggi.
"Ini bisa menambah CAR dari 10,8 persen bisa jadi 18 atau 20 persen lho," ujarnya.
Â
(dro/qom)











































