Demikian disampaikan Presiden Direktur PT Indo Tambangraya Megah Tbk Somyot Ruchirawat dalam keterangan tertulisnya di Jakarta Senin (29/3/2010).
Ia menambahkan, capex sebesar US$ 189 juta akan digunakan untuk melakukan ekspansi aset organik, di antaranya peningkatan kapasitas angkut ban berjalan di Blok Timur Tambang Indominico, serta pembangunan tambang dalam di Tambang Indominco dan Trubaindo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk tambang Bharinto sendiri, diperkirakan memiliki kandungan energi batubara sebesar 6.750 kkal/kg. Namun tambang ini baru dapat beroperasi mulai triwulan IV-2010, dengan target awal produksi sebesar 0,2 juta ton.
Sedangkan untuk capex 2010, perseroan menganggarkan US$ 101 juta, dengan pembagian untuk tambang Indominco mencapai US$ 24 juta. Sedangkan untuk tambang Trubaindo US$ 32 juta, Tambang Kitadin US$ 25 juta, dan Bharinto US$20 juta.
Sepanjang 2009 perseroan mencatat pendapatan US$ 1.508 juta, atau naik 15% dibanding tahun sebelumnya yang sebesar US$ 1.317 juta. Ini akibat naiknya volume penjualan batubara perseroan hingga 18% (3,3 juta ton) dari 17,7 juta ton menjadi 21 juta ton.
Meningkatkan volume penjualan mengakibatkan pendapatan sebelum bunga dan pajak juga ikut naik menjadi US$ 436 juta, dari posisi sebelumnya US$ 340 juta.
"Peningkatan penjualan ini mengimbangi penurunan rata-rata harga jual batubara dari US$ 73,9 per ton (2008) menjadi US$ 71,5 per ton di tahun 2009," ungkapnya.
Kontribusi penjualan batubara ITMG masih didominasi oleh negara-negara Asia Timur, dengan Jepang sebagai negara terbesar pembeli. Jepang di tahun 2009 berkontribusi 20% dari penjualan batubara perseroan atau setara dengan 4,2 juta ton.
Disusul kemudian China 4 juta ton (19%), Taiwan 2,6 juta ton (12%), India 2,2 juta ton (10%), Thailand 2 juta ton (10%), Filipina 1,8 juta ton (9%), Malaysia 900 ribu ton (4%), dan Korea Selatan 600 ribu ton (3%). Ada pula negara Eropa seperti Italia 1,4 juta ton (7%).
ITMG merupakan produsen batubara di Indonesia, dengan wilayah konsensi mencapai 87.565 hektar. Sumber daya sampai akhir tahun 2009 tercatat sebesar 1.650 juta ton dan cadangan mencapai 294 juta ton. (wep/dnl)











































