Demikian disampaikan Presiden Direktur MPPA Benjamin J. Mailool usai Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) di Hotel Ritz Calton SCBD Jakarta (29/3/2010).
"Kami bersepakat untuk penjualan ini. Namun mereka juga minta proposal untuk diberikan kupon bonus dalam bentuk insentif sebagai refleksi bagi-bagi keuntungan sebesar 0,4% dari pokok obligasi," ujar Benjamin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari rapat ini kami juga menyepakati ada penambahan sinking fund sebesar 2% per tahun selama 3 tahun ke depan, yaitu April 2011, April 2012, April 2013," tambah Benjamin.
Lanjutnya, "Mereka lihat, transaksi ini dilakukan sustainability dan sesuai dengan business plan MPPA," tegasnya.
Sebelumnya, pemegang saham independen juga menyetujui agenda penjualan 90,76% saham perseroan yang dimiliki oleh PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) kepada CVC Partners senilai Rp 7,164 triliun.
MPPA berencana menjual 2.648.220.000 (90,76%) saham LPPF kepada Meadows Asia Capital (MAC) pada harga Rp 2.705,33 per saham. Total nilai transaksi ini mencapai Rp 7,164 triliun.
Mekanisme pembayaran akan dilakukan dalam 3 cara, pertama tunai sebesar Rp 5,3 triliun, kedua piutang sebesar Rp 1 triliun dan ketiga penyertaan saham MPPA di MAC sebesar 20% saham dengan opsi beli melalui waran sebesar 7,5%.
Jika transaksi ini teralisasi, MPPA masih akan memiliki 20% saham di LPPF secara tidak langsung melalui MAC. Sisanya sebesar 80% saham MAC akan menjadi milik CVC Partners.
Dari dana tunai hasil penjualan 90,76% saham LPPF sebesar Rp 5,3 triliun, sebesar Rp 1 triliun akan dibagikan sebagai dividen, kemudian sebesar Rp 900 miliar akan digunakan untuk pengembangan bisnis Hypermart, sedangkan sebesar Rp 3,4 triliun akan digunakan untuk melunasi sebagian besar utang-utang perseroan.
Perinciannya adalah, pelunasan obligasi rupiah sebesar Rp 528 miliar, pelunasan obligasi dolar AS senilai US$ 200 juta atau Rp 1,84 triliun dan sisanya utang-utang bank sebesar Rp 1,03 triliun.
Saat ini, posisi utang perseroan mencapai Rp 4,1 triliun. Dengan pelunasan utang sebesar Rp 3,4 triliun, sisa utang perseroan sebesar Rp 700 miliar yang sekaligus menurunkan Leverage Ratio perseroan menjadi 0,07 kali dari sebelumnya 1,2 kali.
Namun pemegang obligasi dan sukuk rupiah tidak menyetujui pelunasan lebih awal yang ditawarkan perseroan. Oleh karena itu, perseroan akan mengalihkan rencana penggunaan dana tersebut untuk pelunasan lebih awal utang-utang bank perseroan.
Benjamin mengatakan, perseroan memiliki utang dari perbankan berupa revolving loan (hutang berjalan) sebesar Rp 1,8 triliun berdenominasi dollar AS dan Rp 800 miliar berdenominasi Rupiah.
"Yang siap revolving kan sekitar Rp 1,8 triliun dalam US$ dan Rp 800 miliar dalam rupiah. Sisanya kan masih banyak, maka dapat dibiayai dari pengalihan pelunasan obligasi kami," paparnya.
Sementara itu, obligasi dollar yang dimiliki perseroan sebesar Rp 1,8-1,9 triliun, ditargetkan akan dapat diputuskan pada bulan Juni 2010. Perseroan memiliki hak untuk melunasi lebih awal atas surat utang tersebut, yang sejatinya baru akan jatuh tempo pada Agustus 2010.
"Dalam 2 bulan ke depan semoga sudah selesai kita excersize semua (obligasi). Global bond kan ada opsi baru di bulan Agustus. Tapi kalau lebih cepat tentu baik. Kita terus lanjutkan langkah-langkah ini, dari rupiah, dollar terus pinjaman bank," ungkapnya.  (wep/dro)










































