Laba Emiten Rokok Melonjak 42%

Laba Emiten Rokok Melonjak 42%

- detikFinance
Selasa, 30 Mar 2010 15:37 WIB
Laba Emiten Rokok Melonjak 42%
Jakarta - Tiga emiten rokok mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 42,45% di tahun 2009. Peningkatan laba didorong oleh naiknya penjualan sebesar 10,09% berbanding kenaikan beban yang hanya sebesar 5,98%.

PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatat pendapatan sebesar Rp 32,973 triliun di 2009, naik 8,99% dibanding tahun 2008 sebesar Rp 30,251 triliun. Total beban GGRM di 2009 sebesar Rp 28,143 triliun, naik tipis 1,99% dibanding tahun 2008 sebesar Rp 27,574 triliun.

Rasio kenaikan beban yang lebih rendah ketimbang pertumbuhan pendapatan, membuat GGRM mencetak pertumbuhan laba bersih mencapai 83,77% menjadi sebesar Rp 3,455 triliun dari sebelumnya Rp 1,880 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mencetak pendapatan sebesar Rp 38,972 triliun di 2009, naik 12,37% dari tahun 2008 sebesar Rp 34,680 triliun. Total beban HMSP di 2009 mencapai Rp 31,757 triliun, membengkak 9,95% dari tahun 2008 sebesar Rp 28,882 triliun.

Laba HMSP di 2009 tercatat sebesar Rp 5,087 triliun, naik 30,60% dari tahun sebelumnya Rp 3,895 triliun.

PT Bentoel International Investama Tbk (RMBA) membukukan pendapatan tahun 2009 sebesar Rp 6,081 triliun, naik tipis 2,37% dari tahun 2008 sebesar Rp 5,940 triliun. Total beban RMBA tercatat sebesar Rp 5,992 triliun, naik 5,19% dari tahun 2008 sebesar Rp 5,696 triliun.

Rasio kenaikan beban yang jauh lebih besar ketimbang pertumbuhan pendapatan, membuat RMBA mengalami penurunan laba signifikan sebesar 89,47% menjadi Rp 25,165 miliar saja di 2009 dibanding tahun 2008 sebesar Rp 239,137 miliar.

Total pendapatan 3 emiten rokok tersebut di 2009 mencapai Rp 78,026 triliun, naik 10,09% dibanding tahun sebelumnya Rp 70,871 triliun. Total beban ketiganya sebesar Rp 65,892 triliun, naik 5,98% dari tahun 2008 sebesar Rp 62,172 triliun.

Rasio kenaikan beban yang jauh lebih kecil ketimbang kenaikan pendapatan, membuat pertumbuhan laba bersih naik cukup tinggi sebesar 42,45% menjadi sebesar Rp 8,567 triliun di 2009 dibanding tahun 2008 sebesar Rp 6,014 triliun.

Kenaikan pendapatan 3 emiten rokok di tahun 2009 terutama didorong oleh pertumbuhan penjualan rokok HMSP yang mencapai 12,37%. Namun penyumbang kenaikan laba bersih terbesar justru berasal dari GGRM yang mencapai 83,77% di 2009.

GGRM sukses melakukan efisiensi beban pada tahun 2009 ketimbang HMSP. Rasio beban GGRM terhadap pendapatan di tahun 2009 tercatat sebesar 85,35%, menurun 5,86% dari tahun 2008 sebesar 91,21%.

Rasio beban terhadap pendapatan HMSP di 2009 memang lebih kecil dari GGRM, yakni sebesar 81,48%. Namun pada tahun 2008, rasio beban terhadap pendapatan HMSP tercatat sebesar 83,28%. Itu berarti, efisiensi yang dilakukan HMSP di 2009 hanya sebesar 1,80%.

Oleh sebab itu, rasio perolehan laba bersih terhadap pendapatan GGRM meningkat lebih tinggi ketimbang HMSP. Rasio laba terhadap pendapatan GGRM di 2009 sebesar 10,47%, naik 4,26% dibanding tahun 2008 sebesar 6,21%.

Sedangkan rasio perolehan laba bersih terhadap pendapatan HMSP di 2009 sebesar 13,05%, hanya naik 1,82% dibanding tahun 2008 sebesar 11,23%.

Sementara RMBA kurang memiliki kemampuan efisiensi beban di tahun 2009, sehingga mencatat penurunan laba bersih signifikan di 2009. Rasio beban terhadap pendapatan RMBA di 2009 mencapai 98,53%. Padahal di tahun 2008 rasionya sebesar 95,89%. Itu berarti terjadi peningkatan rasio beban terhadap pendapatan sebesar 2,64% di 2009 alias pemborosan.

Hal itu membuat rasio laba bersih terhadap pendapatan RMBA semakin terpangkas. Di tahun 2009 rasio laba terhadap pendapatan RMBA hanya sebesar 0,41%, turun 3,61% dibanding rasio laba terhadap pendapatan di 2008 sebesar 4,02%.

Di sisi lain, kesuksesan GGRM melakukan efisiensi beban di tahun 2009 terbukti memberikan keuntungan bagi pemegang sahamnya. Meskipun dari segi penjualan ia masih kalah dengan HMSP, namun nilai laba per saham GGRM di akhir 2009 naik signifikan menjadi Rp 1.796 dari tahun sebelumnya Rp 977.

Nilai tersebut belum berhasil dikalahkan oleh HMSP dengan nilai laba per saham sebesar Rp 1.161 di akhir 2009. Pada tahun 2008, laba per saham HMSP sebesar Rp 889 per saham.

Jika dibandingkan dengan harga saham GGRM saat ini sebesar Rp 25.350, maka rasio harga saham terhadap laba per saham (PER) GGRM sebesar 14,11 kali. Harga saham HMSP saat ini sebesar Rp 14.000, itu berarti rasio PER HMSP sebesar 12,05 kali.

Sedangkan harga RMBA di pasar saat ini sebesar Rp 405 per saham. Dengan laba per saham sebesar Rp 3,74, maka PER RMBA mencapai 108,28 kali, sangat mahal ketimbang PER GGRM dan HMSP.

Mengacu pada analisa tersebut, RMBA harus melakukan pembenahan lebih keras guna mengejar kesuksesan dua emiten rokok lainnya, GGRM dan HMSP.

 

 
(dro/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads