Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Perry Warjiyo diGedung Bank Indonesia, Jakarta, Selasa (30/03/2010).
"Rupiah di kisaran Rp 9000 akan berjalan cukup lama, bahkan tren nilai tukar rupiah optimis akan terjadi apresiasi karena premium risiko yang bagus," tutur Perry.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penguatan nilai tukar rupiah, lanjut Perry, juga dipengaruhi beberapa kebijakan moneter yang diambil oleh sejumlah bank sentral, seperti Bank of India yang menaikkan bunga acuan sebesar 25 basis poin.
"Beberapa perkembangan ini ada suatu peningkatan risk appetite investor pada emering market sampai menjelang pertemuan pimpinan Eropa terkait penanganan krisis fiskal Yunani, ini akan lebih baik lagi," tambah Perry.
Ia juga mengatakan, penguatan rupiah ini juga akan berjalan dalam waktu menengah dan panjang terkait dengan membaiknya neraca pembayaran Indonesia. Perry menyampaikan secara keseluruhan bank sentral meyakini tren penguatan nilai tukar rupiah masih pada lintasan optimistis karena didukung premi risiko yang bagus, neraca pembayaran dan krisis global yang membaik.
Berdasarkan data Bank Indonesia hingga 26 Maret 2010 penguatan nilai tukar rupiah secara year to date mencapai 2,93%, Malaysia (ringgit) 3,43%, Thailand (bath) 2,82%, Filipina (peso) 2,1%, Taiwan 2,82% dan Korea Selatan (won) 2,34.
(dru/qom)











































