Demikian disampaikan dalam laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan, Rabu (31/3/2010).
Hingga akhir 2009, TINS mencatat pendapatan sebesar Rp 7,709 triliun, turun 14,84% dibanding tahun sebelumnya Rp 9,053 triliun. Beban pokok pendapatan hanya naik 3,5% menjadi Rp 6,556 triliun dari sebelumnya Rp 6,334 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun laba usaha tetap terpangkas tajam sebesar 66,74% menjadi Rp 688,544 miliar dari sebelumnya Rp 2,070 triliun. Perseroan juga menderita kerugian kurs sebesar Rp 120,178 miliar yang membuat TINS mencatat beban lain-lain sebesar Rp 123,081 miliar. Pada tahun sebelumnya, TINS masih mencatat penghasilan lain-lain sebesar Rp 30,773 miliar.
Akibatnya, laba bersih TINS hanya tercatat sebesar Rp 313,751 miliar, anjlok 76,62% dari tahun sebelumnya Rp 1,342 triliun. Laba per saham juga terpangkas 76,78% menjadi Rp 62 per saham dari sebelumnya Rp 267 per saham.
Harga saham TINS pada penutupan perdagangan kemarin sebesar Rp 2.400 per saham. Itu berarti, rasio harga saham terhadap laba per saham (PER) TINS meningkat tajam menjadi 38,7 kali lipat, semakin mahal ketimbang sebelumnya 8,98 kali lipat.
Â
Â
(dro/dro)











































