Demikian disampaikan dalam laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan, Rabu (31/3/2010).
Hingga akhir 2009, ADRO mencetak pendapatan sebesar Rp 26,938 triliun, melesat 48,89% dari tahun sebelumnya Rp 18,092 triliun. Beban pokok pendapatan sebesar Rp 15,900 triliun, naik 20,92% dari sebelumnya Rp 13,149 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beban usaha tercatat sebesar Rp 1,109 triliun, naik 51,69% dari sebelumnya Rp 731,374 miliar. Laba usaha pun semakin melesat tajam sebesar 135,76% menjadi Rp 9,928 triliun dari sebelumnya Rp 4,211 triliun.
Beban lain-lain dibukukan hanya sebesar Rp 1,350 triliun, naik tipis 4,89% dari sebelumnya Rp 1,287 triliun. Hal itu membuat ADRO mencatat laba bersih sebesar Rp 4,367 triliun, melesat 392,25% dari sebelumnya Rp 887,198 miliar.
Laba per saham pun meningkat tajam menjadi Rp 136,5 per saham dibanding sebelumnya Rp 34,8 per saham. Harga saham ADRO pada penutupan perdagangan kemarin sebesar Rp 1.910 per saham.
Itu berarti, rasio harga saham terhadap laba per saham (PER) ADRO menurun tajam menjadi 13,99 kali, semakin murah ketimbang posisi sebelumnya 54,88 kali,
Â
Â
(dro/qom)











































