Transaksi tutup sendiri (crossing) di pasar negosiasi telah dilakukan sebanyak 3 kali antara pukul 09.30.21 hingga 09.31.01 JATS melalui perantara broker PT JP Morgan Securities Indonesia (BK) sebagai fasilitator penjualan.
Jumlah saham yang dipindahtangankan sebanyak 2.806.202 lot atau sebanyak 1.403.101.000 saham. Jumlah tersebut setara dengan 23,65% dari total saham SMGR sebanyak 5.931.520.000 saham.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum transaksi ini, kepemilikan Blue Valley di SMGR sebanyak 1.476.948.480 saham (24,9%). Dengan penjualan 23,65% tersebut, kepemilikan Blue Valley tersisa 73.847.480 saham (1,25%).
Berdasarkan data transaksi Bursa Efek Indonesia (BEI) seperti dikutip detikFinance, Rabu (31/3/2010), ada 3 pihak yang melakukan pembelian tersebut. Pihak pertama membeli sebanyak 6.000 lot atau 3.000.000 saham (0,05%) melalui broker PT Deutsche Securities Indonesia (DB) yang menyandang status investor asing.
Pihak kedua melakukan pembelian sebanyak 90.000 lot atau 45.000.000 saham (0,76%) melalui broker PT Mandiri Sekuritas (CC) yang menyandang status investor lokal (domestik).
Kemudian pihak ketiga melakukan pembelian 2.710.202 lot atau 1.355.101.000 saham (22,84%) melalui broker JP Morgan (BK) yang menyandang status asing. Hingga saat ini belum diketahui siapa-siapa saja pihak yang menjadi pembeli saham-saham yang dijual oleh Blue Valley tersebut.
Pemegang saham SMGR lainnya adalah pemerintah RI (51,01%), Deutsche Bank AG (3,32%) dan publik (20,88%).
Blue Valley merupakan salah satu perusahaan yang berada di bawah naungan Rajawali Corporation. Perusahaan yang disebut terakhir merupakan milik Peter Sondakh, yang baru saja masuk dalam daftar orang terkaya versi majalah Forbes. Peter berada di posisi 437 degnan nilai kekayaan US$ 2,2 miliar.
Peter Sondakh sebelumnya juga telah melepas kepemilikannya di PT Bentoel International Investama Tbk (RMBA) kepada British American Tobacco (BAT). Peter Sondakh berniat fokus ke bisnis batubara.
Grup Rajawali sebelumnya juga melepas 15,97% saham PT XL Axiata Tbk (XL) kepada perusahaan telekomunikasi asal Uni Emirat Arab, Etisalat senilai Rp 4,1 triliun.
(dro/qom)











































