Intraco Penta Akuisisi Terra Faktor dan Columbia Chrome Rp 170 Miliar

Intraco Penta Akuisisi Terra Faktor dan Columbia Chrome Rp 170 Miliar

- detikFinance
Rabu, 31 Mar 2010 17:50 WIB
Intraco Penta Akuisisi Terra Faktor dan Columbia Chrome Rp 170 Miliar
Jakarta - PT Intraco Penta Tbk (INTA) telah melakukan akuisisi atas dua perusahaan yang bergerak di bidang leasing alat-alat berat dan pabrik suku cadang. Total nilai transaksi akuisisi tersebut adalah sebesar Rp 170 miliar.

"Kita telah mengakuisisi dua perusahaan, nilai akuisisinya Rp 170 miliar," kata Direktur INTA A Fred L Manibog dalam konferensi pers di Hotel Four Season Jalan HR Rasuna Said Jakarta, Rabu (31/3/2010).

Dari dua perusahaan yang diakuisisi tersebut merupakan perusahaan terafiliasi dengan INTA, yakni PT Terra Factor Indonesia dan PT Columbia Chrome Indonesia (CCI). Terra Factor merupakan perusahaan distribusi penjualan alat-alat berat bekas (rental solutions), sementara CCI merupakan perusahaan manufacturing suku cadang (engineering solutions)..

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan akuisisi tersebut, aset INTA naik menjadi Rp 1,039 triliun. Dimana aset Terra Factor sebanyak Rp 411,6 miliar, sementara aset CCI sebanyak Rp 18,9 miliar. "Saham kami di Terra Factor menjadi 92%. Sementara saham kami di CCI adalah sebanyak 99,9%," imbuhnya.

Tujuan akuisisi tersebut bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, agar pendapatan perseroan secara konsolidasi meningkat serta sustainable. Selama ini pendapatan INTA tidak sutainable. sedangkan untuk CCI dan Terra Factor yang rata-rata berkontrak jangka panjang hingga ada predictable.

"Itu bisa diukur dengan jangka waktu yang panjang," ucapnya.

Selama tahun 2009, perseroan mencatatkan kenaikan laba bersih Rp 37,47 miliar, atau meningkat 63,33% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2008 sebelumnya sebesar Rp 22,94 miliar. Padahal pendapatan perseroan turun menjadi Rp 1,119 triliun jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, Rp 1,12 triliun.

Dimana penjualan perseroan turun menjadi Rp 1,03 triliun dari sebelumnya Rp 1,05 triliun. Tapi jasa perbaikan dan persewaan alat berat meningkat menjadi Rp 62,9 miliar dari sebelumnya Rp 44,3 miliar. Begitu juga dengan pembiayaan alat berat meningkat menjadi Rp 26,8 miliar dari sebelumnya Rp 15,59 miliar.

Sementara beban pokok pendapatan turun menjadi Rp 884,55 miliar dari sebelumnya Rp 917,4 miliar. Sehingga laba kotor menjadi Rp 234 miliar, naik dari sebelumnya yang sebesar Rp 203 miliar. Sehingga laba usaha naik menjadi Rp 106,8 miliar dari sebelumnya Rp 88,6 miliar.

Perseroan juga memiliki keuntungan derivatif sebesar Rp 13,9 miliar jika dibandingkan sebelumnya yang rugi dari derivatif ini Rp 10,5 miliar. Serta ada tambahan komisi sebesar Rp 7,24 miliar.

 

 

(wep/dro)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads