Demikian disampaikan Direktur Keanggotaan dan Perdagangan BEI Wan Wei Yiong, saat ditemui di kantornya, SCBD Jakarta Kamis (1/4/2010).
"Algo Trading diperbolehkan, namun selektif. Kami harapkan mereka mempresentasikan Algo Trading mereka, karena ada beberapa yang boleh dan ada yang tidak boleh," kata Yiong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita juga tidak mau, kalai order seolah-olah banyak, padahal hanya satu," ujarnya.
Otoritas bursa juga tidak dapat melarang penerapan sistem Algo Trading ini, karena hal ini juga telah banyak dilakukan di beberapa bursa besar dunia. "Tidak bisa dibatasi 100%. Kita lihat kepentingan pasar, sesuai apa tidak," paparnya.
Lanjutnya, "tiap brokeraje punya algo masing-masing, dan dapat masukkan order pake mesin. Untuk aturan online dan DME, kita akan buat aturan Algoritmic Trading," ucapnya.
Dari broker yang telah menerapkan Algo Trading, BEI akan mereview penerapan sistem ini. Tujuannya lagi-lagi supaya tidak terjadi spekulasi pasar.
"Kita lihat Credit Suisse dan UBS seperti apa. CS sudah di-review. Mereka datang presentasi. Kita lihat, ada yang boleh dan ada yang jangan," jelasnya.
Meskipn ada batasan, bukan berarti otoritas bursa tidak mempersiapkan diri atas kapasitas mesin yang dimiliki. Dari kapasitas 1 juta order dan 500 ribu transaksi yang telah tersedia saat ini, rencananya di 2010 akan ditingkatkan menjadi lima kali lipat.
"Kita sedang kaji implementasinya jadi lima kali lipat di 2010, jadi 5 juta order dan 2,5 juta order. Ini kita lihat dari perkembangan perdagangan online yang ada. Minggu lalu saja kita sudah 130 ribu trade," imbuhnya.
Sebelumnya, pada semester I 2009, saat bursa baru dibuka kurang dari 5 menit, salah satu broker memasukkan order beli saham tertentu sebanyak 10 lot pada sistem remote trading. Dan hasilnya terjadi order yang dimasukkan terkirim berulang kali mencapai 220.086 kali.
Pihak otoritas mensinyalir adanya anomali dan langsung menghentikan sistem baru perdagangan BEI. Setelah ditemukan pelaku dan penyebabnya, BEI meminta broker agar order berulang tersebut, ditarik dari pasar dan 10 menit kemudian bursa dima lanjutkan kembali.Namun, penarikan order justru menambah jumlah order menjadi dua kali lipat sehingga dalam waktu yang singkat mesin mengalami error dan pasar terhenti selama lebih kurang dua jam.
Pada praktiknya, Algo Trader akan menganalisis berbagai informasi yang tersedia, termasuk dari Google, Bloomberg, dan Reuters untuk mengeksekusi order sesuai strategi investasi tertentu yang telah ditanamkan dalam program algoritma, dan dijalankan dalam komputer canggih yang supercepat.
Awalnya Algo Trader dikembangkan oleh bank investasi dan perusahaan broker besar berskala internasional. Kemudian hal tersebut diikuti oleh para hedge fund sejalan dengan semakin murahnya biaya investasi teknologi informasi. Semua pihak dengan tujuannya masing-masing berlomba- lomba mengembangkan Algo Trader dengan strategi yang berbeda-beda.
Â
Â
(wep/dro)











































