IHSG dibuka naik tipis ke level 2.777,704 dan langsung tajam hingga menembus level 2.800. Tak berhenti disitu, IHSG terus menguat seiring dengan aksi pembelian masif pada saham-saham unggulan berkapitalisasi besar yang membuat IHSG terangkat cukup tinggi.
IHSG bahkan sempat beberapa kali mencolek-colek level tertinggi IHSG dalam sejarah pasar modal. Posisi tertinggi IHSG dalam sejarah pasar modal Indonesia terjadi pada 9 Januari 2008 di level 2.830,263.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IHSG bergerak dalam rentang 2.777,704 di titik terendah hingga level 2.834,241 di titik tertinggi, menembus level tertingginya dalam sejarah pasar modal Indonesia di level 2.830,263.
Rekor baru IHSG itu berhasil ditembus seiring dengan penguatan saham-saham unggulan berkapitalisasi besar. Penguatan saham Astra International (ASII) yang mencapai 7% lebih diikuti dengan kenaikan saham-saham raksasa lainnya berhasil membuat IHSG menembus level tertingginya dalam sejarah.
Hampir seluruh saham-saham unggulan mengalami penguatan pada perdagangan hari ini seperti Indo Tambang (ITMG), Bukit Asam (PTBA), Lonsum (LSIP), BRI (BBRI), Semen Gresik (SMGR), Astra Agro (AALI), Gudang Garam (GGRM) dan sebagainya.
Indeks-indeks sektoral semuanya berada di zona hijau dipimpin oleh duet indeks saham sektor perkebunan dan pertambangan, kemudian sektor aneka industri serta sektor infrastruktur dan perbankan.
Saham-saham unggulan yang terjebak di zona negatif antara lain saham Bank Mandiri (BMRI), Unilever (UNVR), Inco (INCO) Timah (TINS) Medco (MEDC) diikuti dengan saham-saham lapis dua seperti Indospring (INDS), Bir Bintang (MLBI), Sarana Menara (TOWR) dan sebagainya.
Namun laju penguatan saham-saham unggulan mulai mengendur di sesi II, sehingga membuat IHSG gagal mencetak rekor baru pada perdagangan hari ini.
Pada perdagangan Kamis (1/4/2010), IHSG ditutup naik tajam 52,695 poin (1,89%) ke level 2.829,996. Indeks LQ 45 juga menguat tajam 10,579 poin (1,95%) ke level 550,380.
Transaksi beli asing hari ini sebesar Rp 2,909 triliun, sedangkan transaksi jual asing sebesar Rp 2,696 triliun. Total nilai transaksi beli bersih asing (foreign net buy) hari ini sebesar Rp 212,571 miliar.
Namun nilai tersebut sudah memperhitungkan penjualan Pacific Asia Holding atas 7,24% saham PT Matahari Dept Store Tbk (LPPF) kepada Meadows Asia Company (MAC) sebesar Rp 571,375 miliar.
Jika tidak memperhitungkan transaksi di pasar negosiasi, net buy asing di pasar reguler mencapai Rp 779,848 miliar.
Sementara nilai tukar rupiah juga ditutup pada titik tertingginya sepanjang 19 bulan terakhir di level 9.070 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.090 per dolar AS. Posisi tersebut merupakan tertinggi sejak 5 Agustus 2008.
Bursa-bursa regional Asia seluruhnya menguat tajam:
- Indeks Shanghai naik 38,31 poin (1,23%) ke level 3.147,42.
- Indeks Hang Seng naik 297,65 poin (1,4%) ke level 21.537,00.
- Indeks Nikkei-225 naik 154,46 poin (1,39%) ke level 11.244,40.
- Indeks Straits Times naik 57,25 poin (1,99%) ke level 2.944,99.
- Indeks KOSPI naik 26,32 poin (1,55%) ke level 1.719,17.
Perdagangan berjalan sangat ramai dengan frekuensi transaksi di seluruh pasar mencapai 117.532 kali pada volume 7,777 miliar lembar saham senilai Rp 14,025 triliun. Sebanyak 134 saham naik, 76 saham turun dan 84 saham stagnan.
Pembengkakan nilai transaksi disebabkan adanya transaksi penjualan 98% saham PT Matahari Dept Store Tbk (LPPF) milik PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) sebesar 90,76% dan Pacific Asia Holding sebesar 7,24%.
Saham-saham paling aktif naik harganya antara lain Astra International (ASII) naik Rp 2.600 ke Rp 44.500, Hero Supermarket (HERO) naik Rp 800 ke Rp 6.000, Bukit Asam (PTBA) naik Rp 650 ke Rp 18.050, Semen Gresik (SMGR) naik Rp 550 ke Rp 7.850, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 500 ke Rp 25.250, Indo Tambang (ITMG) naik Rp 450 ke Rp 38.500, BRI (BBRI) naik Rp 450 ke Rp 8.700.
Sedangkan saham-saham yang aktif turun harganya antara lain Indospring (INDS) turun Rp 575 ke Rp 2.225, Bir Bintang (MLBI) turun Rp 500 ke Rp 162.500, Sarana Menara (TOWR) turun Rp 125 ke Rp 2.225, bank Mandiri (BMRI) turun Rp 100 ke Rp 5.250, BTPN turun Rp 100 ke Rp 7.800.
Β
(dro/qom)











































