BI Kesulitan Tahan Penguatan Rupiah

BI Kesulitan Tahan Penguatan Rupiah

- detikFinance
Senin, 05 Apr 2010 18:36 WIB
Jakarta - Nilai tukar rupiah saat ini terus mengalami penguatan sampai di kisaran Rp 9.000/US$. Bank Indonesia (BI) mengakui telah berusaha untuk menjaga penguatan rupiah tidak terjadi cepat, namun derasnya arus dana asing yang masuk membuat penguatan rupiah sulit dibendung.

Pjs Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan fundamental ekonomi dalam negeri yang baik membuat arus dana asing ke dalam negeri sangat deras dan mempengaruhi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Ya sebetulnya kalau dikatakan cepat kita sudah berusaha menjaga. Tapi memang karena fundamental ekonomi baik, sekarang mata uang lokal kita menguat terhadap dolar AS," ujarnya saat ditemui di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (5/4/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara nilai tukar rupiah pada hari ini ditutup menguat tipis ke level 9.065 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.070 per dolar AS. Rupiah pagi tadi sempat menguat hingga 9.045 per dolar AS.

Darmin mengatakan, arus modal asing masuk akan terus terjadi, terutama karena masih menariknya berbagai instrumen investasi di Indonesia.

"Arus valas yang masuk itu dijaga terus, tapi kelihatannya karena mereka melihat investasi di Indonesia menarik. Sebetulnya ini yang diharapkan karena kalau mereka masuk, lalu ada perusahaan perusahaan kita yang go public, rights issue, dan jual obligasi bertambah, kalau itu berjalan kan investasinya jadi lebih bagus," kata Darmin.

Di tempat yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan penguatan rupiah saat ini merugikan para eksportir karena harga komoditas ekspor mereka akan menjadi tidak bersaing.

"Kalau kita lihat dari sisi kebijakan makro plus minusnya utk ekspor itu menjadi nilai yang memberatkan kalau penguatan kita terus menerus dan cepat. Dari sisi impor murah. Jadi dari satu posisi menaikkkan raw material dan bahan antara agar bisa menaikkan produktivitas di manufaktur yang membutuhkan," jelas Sri Mulyani.

Namun yang perlu diwaspadai, ujar Sri Mulyani, jangan sampai penguatan nilai tukar ini menimbulkan distorsi karena ketidakmampuan suatu sektor untuk bergerak mengikuti tren penguatan nilai tukar yang terjadi.
(dnl/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads