Demikian disampaikan dalam laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan, Selasa (6/4/2010).
Hingga akhir 2009, BNBR mencatat pendapatan sebesar Rp 7,631 triliun, turun tipis 5,08% dari sebelumnya Rp 8,404 triliun. Beban pokok pendapatan tercatat sebesar Rp 3,926 triliun, turun 17,50% dari sebelumnya Rp 4,759 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, laba usaha langsung terpangkas 43,88% menjadi Rp 701,985 triliun dari sebelumnya Rp 1,251 triliun. Penurunan kinerja semakin diberatkan oleh adanya beban bunga sebesar Rp 1,091 triliun.
Adanya beban bunga ini menyebabkan perseroan mencatat beban lain-lain sebesar Rp 2,038 triliun. Namun nilai ini masih jauh lebih kecil ketimbang beban lain-lain di tahun 2008 yang mencapai Rp 17,459 triliun.
Pembengkakan beban lain-lain di tahun 2008 disebabkan oleh adanya rugi atas penjualan saham-saham anak usaha sebesar Rp 17,111 triliun. Secara sederhana boleh dikatakan, rugi penjualan anak usaha ini merupakan kerugian sekali waktu (one time loss). Adanya kerugian sebesar Rp 17,111 triliun ini menyebabkan perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp 16,464 triliun di 2008.
Sebaliknya, pada tahun 2009, kerugian BNBR tidak disebabkan atas kerugian penjualan anak usaha, melainkan adanya pembengkakan beban bunga sebesar Rp 1,091 triliun yang notabene bukan tergolong one time loss. Akibatnya, BNBR mencatat rugi bersih sebesar Rp 1,627 triliun di 2009.
Meskipun rugi bersih BNBR menurun drastis dari tahun 2008, namun pembengkakan beban bunga lebih bersifat jangka panjang alias bisa berpengaruh pada kinerja perseroan ke depannya. Berbeda dengan kerugian penjualan anak usaha sebesar Rp 17,111 triliun yang merupakan one time loss.
Β
Β
(dro/dro)











































