Market Flash eTrading

- detikFinance
Jumat, 09 Apr 2010 08:44 WIB
Jakarta - Dow Jones: Pasar US saham mengalami kenaikan setelah sektor ritel menguat lebih cepat untuk estimasi penjualan. Target Corp. dan Gap Inc. menguat lebih dari 2% setelah grup ritel menyatakan bahwa bulan lalu merupakan bulan maret terbaik untuk penjualan selama 11 tahun. US Airways Group Inc. naik 11% setelah memberikan pernyataan mengenai rencana merger dengan perusahaan UAL Corp.'s United Airlines. Indeks Standard & Poor's 500 (+0.3%) 1,186.44. Dow Jones Industrial Average (+0.3%) 10,297.07.  

Regional Pagi: Saham-saham Jepang menguat di Jumat pagi seiring prospek positif trader terhadap laporan keuangan dari sejumlah peritel. Fast Retailing Co. Ltd (+3.9%) setelah perusahaan melaporkan kenaikan laba bersih 55.7% YoY pada 1H.

Seven & I Holdings Co (+4.8%) setelah perusahaan mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 51.4% untuk tahun fiscal yang berakhir Februari dibandingkan dengan tahun sebelumnya, namun mengekspektasikan akan meraih laba pada tahun fiscal ini. Nikkei 225 (+0.1%) 11,182 Kospi (-0.67%) 1,722 S&P/ASX200 (+ 0.42%) 4958 STI (+ 5.24 poin) 2968

Commodity: Harga minyak mentah untuk pengiriman bulan Mei naik 31 sen (+0.4%) ke level $85.70 per barrel, setelah naiknya penjualan retail AS, yang mengindikasikan sinyal semaikin membaiknya ekonomi. Crude Oil (+0.4%) $85.7/bbl, Gold (unc) $1,151/oz, CPO (+0.4%) 2,580RM/MT, Coal (+0.9%) $94.8/MT Nickel (unc) $24,720/MT, TIn (+0.1%) $18,600/MT.

Economic & Industrial News

Economic: Peringkat Risiko Investasi RI Turun

Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD) memperbaiki peringkat Country Risk Classification (CRC) Indonesia dari semula level 5 menjadi 4 sejak 2 April 2010.

Economic: 2010 Sulit " Tax Ratio" 16 Persen

Rasio Penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto sebesar 16 persen diperkirakan baru bisa dicapai tahun 2011. Namun, dengan catatan, Direktorat Jenderal Pajak mampu meningkatkan kepatuhan wajib pajak dan menghilangkan kebocoran pajak. Sebelumnya, dalam Rapat Dengar Pendapat Panitia Kerja (Panja) Perpajakan Komisi XI DPR dengan Direktorat Jenderal Pajak Mochammad Tjiptardjo (7/4), Panja mendesak pemerintah menaikkan target tax ratio dari 12% menjadi 16% pada 2010 atau dari Rp 742,7 triliun menjadi Rp 960 triliun. Alasannya Panja, dicurigai ada kebocoran pajak sekitar 4% dari nominal produk domestik bruto (PDB) yang ditetapkan Rp 6.000 triliun.

Dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia, tax ratio Indonesia relatif rendah. Tax ratio negara-negara kawasan Asia rata-rata 20%. Untuk mencapai 20%, menurut Darmin Nasution, yang kala itu menjadi Dirjen Pajak, dibutuhkan waktu 4-8 tahun. Ini karena pertumbuhan tax ratio per tahun hanya 0,5-1 persen.

Economic: Minim Data Temuan Migas

Minimnya data potensi ataupun temuan cadangan minyak dan gas bumi menurunkan minta investasi di Indonesia. Hal itu bisa menghambat target produksi migas. Untuk itu, pemerintah perlu mengalokasikan anggaran untuk survei umum dan eksplorasi. Kebutuhan minyak bumi dalam negeri saat ini 1,28 juta barrel per hari, sementara produksi terus menurun. Adapun target produksi minyak siap jual secara nasional tahun 2010 sebesar 965.000 barrel per hari.

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral R Sukhyar memaparkan, untuk menggantikan cadangan minyak yang terkuras, perlu dilakukan 400-500 sumur per tahun. Namun pada kenyataannya realisasi pengeboran eksplorasi hanya 75 sumur per tahun. Saat ini total cadangan minyak Indonesia 7,99 miliar barrel minyak (BBO). Dari total jumlah cadangan minyak, sebanyak 4,3 BBO merupakantemuan cadangan minyak dan 3,96 BBO adalah potensi cadangan. Adapun total cadangan gas Indonesia 159,63 triliun kaki kubik (TCF), yang 107,3 TCF di antaranya merupakan temuan cadangan gas.

Economic: Biaya Operasional Bank Tidak Ideal

Tingkat efisiensi perbankan nasional tampaknya masih jauh dari angka ideal. Separuh lebih biaya operasional dan lainnya masih dibebankan kepada debitur melalui bunga kredit meski satu sisi biaya dana terus menurun. Dengan kondisi itu sebenarnya tak ada alasan bagi bank meningkatkan bunga kredit karena hanya mengacu pada ekspektasi inflasi awal semeter II/2010.

Property: Proyeksi Penjualan Asing Butuh 2 Tahun

Menurut Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk Johanes Mardjuki, masa transisi yang dibutuhkan untuk bisa menyesuaikan aturan baru mengenai izin orang asing dapat memiliki properti di Indonesia sekitar dua tahun. Setelah itu, ada kemungkinan proyeksi realisasi penjualan properti kepada orang asing sebesar Rp 25 triliun itu terwujud. Kendati demikian, Johanes mengakui bahwa apabila orang asing diizinkan memiliki properti di Indonesia, pertumbuhan kebutuhan primer ini akan semakin meningkat. Revisi Peraturan Pemerintah No 41/1996 tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing yang berkedudukan di Indonesia diharapkan dapat secepatnya terwujud. Dengan direvisinya peraturan tersebut, membuka peluang bagi orang asing untuk memiliki properti di Indonesia.

Property: Permintaan Ruang Perkantoran Akan Melonjak

Permintaan properti di Jakarta berpeluang naik signifikan dalam beberapa tahun mendatang, menyusul membaiknya kondisi perekonomia dalam dan luar negeri. Bahkan, suplai perkantoran diprediksi lebih rendahdibandingkan laju kenaikan permintaan. Tren membaiknya perekonomian Tanah Air terlihat dari laporan

kebijakan moneter oleh BI. Otoritas moneter ini memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini pada kisaran 5,5%-6,0%. Sedangkan pada 2011, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan mencapai 6,0%-6,5%.Kondisi ini menopang sejumlah perusahaan menambah investasi di dalam negeri, sehingga berdampak positif terhadap permintaan ruang perkantoran.

Automotive: Penjualan Mobil Melonjak 73,5%

Realisasi penjualan mobil domestik selama 1Q10 mencapai 173.989 unit, melonjak 73,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 100.257 unit. Kenaikan didorong oleh kuatnya daya beli masyarakat serta kondisi ekonomi yang kian membaik.

Corporate news

TLKM: Targetkan Pertumbuhan Pendapatan 10%

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 7-10% pada 2010. Kontribusi pertumbuhan diharapkan dari bisnis internet, selular, dan new wave business. Selama 2009, perseroan membukukan pendapatan Rp 64,5 triliun atau tumbuh 6,4% dibanding 2008. Perseroan juga membukukan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar Rp 36,6 triliun atau tumbuh 5,5%. Sementara itu, laba bersih sebesar Rp 11,3 triliun atau tumbuh 6,7 persen dibanding 2008.

Tahun ini, Telkom menganggarkan belanja modal Rp 20 triliun. Dari nilai belanja modal itu sekitar 70% untuk Telkomsel. TLKM bersama konsorsium NSW-Fujitsu juga telah menandatangani pinjaman dari Japan Bank for International Cooperations (JBIC), 26 Maret lalu. Fasilitas pinjaman A dan B yang masing-masing bernilai US$35,93 juta dan US$23,96 juta itu akan dialokasikan untuk pengadaan peralatan telekomunikasi.

FREN : Bapepam-LK Minta Penjelasan Mobile-8

Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga keuangan (Bapepam-LK) meminta penjelasan lebih lanjut tentang rencana penambahan modal tanpa hak memesan terlebih dahulu (non-HMETD) PT Mobile-8 Telecom Tbk. "Meski mereka sudah menjawab surat kami yang pertama, kami menyurati mereka lagi utnuk menyatakan secara umum rencana bisnis perusahaan mereka" ujar Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Bapepam-LK Noor Rachman kepada pers kemarin.

ADMF: Genjot Bisnis Kanal

PT Asuransi Adira Dinamika (Adira Insurance) akan menggenjot pengembangan bisnis kanal guna mendongkrak pendapatan klaim yang pada Februari 2010 mencapai Rp139,63 M atau naik 37,5% dari periode sama tahun lalu, yaitu Rp101,49 M. Pengembangan kanal distribusi ini untuk memperluas jaringan dan meningkatkan pemasaran produk di sejumlah daerah di Tanah Air yang belum digarap secara optimal.

SGRO: Rambah Bisnis Sagu dengan Modal US$ 12,28 Juta

Berdasarkan laporan keuangan 2009, SGRO melalui anak usahanya, PT Sampoerna Bio Fuels, telah menandatangani perjanjian akuisisi PT National Sago Prima (NSP) dengan para pemegang sahamnya. Perjanjian itu ditandatangani 9 Februari 2010. Dalam perjanjian itu, SGRO akan membeli 75,5% saham National Sago senilai US$ 6,48 juta. Aksi ini bakal disusul langkah penambahan setoran modal sebesar US$ 5,8 juta atau setara Rp 55,12 miliar. Tambahan modal SGRO ke National Sago bakal meningkatkan kepemilikan mereka nantinya menjadi 91,85%. Walhasil, SGRO harus merogoh kocek US$ 12,28 juta untuk melangsungkan aksi akuisisi itu.

KARK: Jajaki Akusisi Tambang Nikel dan Perusahaan Infrastruktur

PT Dayaindo Resources International Tbk (KARK) berniat mengakuisisi perusahaan tambang nikel dan perusahaan infrastruktur. Dana untuk akuisisi dua perusahaan tersebut menurut rencana berasal dari penerbitan saham baru (right issue) perseroan senilai Rp2 triliun.

WEHA: Proyeksikan Capex Rp128 Miliar

PT Panorama Sentra Wisata Tbk (WEHA) menganggarkan belanja modal (capex) sebesar Rp128 miliar pada 2010. Dana tersebut digunakan untuk mendukung rencana ekspansi perseroan. Tahun lalu, perseroan membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 19% menjadi Rp92,6 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp78 miliar. Sementara itu laba bersih perseroan naik 7% menjadi Rp5,02 miliar dari tahun 2008 sebesar Rp4,69 miliar.

BBLD: Raih Pinjaman Rp300 M

PT Buana Finance Tbk mengantongi pinjaman sebesar Rp300 M guna mendanai pembiayaan sewa guna usaha alat berat (leasing) yang dipatok mencapai Rp1,2 T pada tahun ini. Presiden Direktur Buana Finance mengatakan perseroan meraih pinjaman senilai Rp250 M dari Bank OCBC NISP dan Rp50 M dari Bank ICB Bumiputera.

NISP: Incar Traveler

PT Intraco Penta Tbk (INTA) akan mengakusisi dua tambang batubara yang berlokasi di Sumatera dan Kalimantan. Kapasitas tambang batubara yang diakusisi tersebut berkisar 60-120 juta ton. Intraco menyiapkan dana akusisi sebesar US$100 juta atau sekitar Rp915 miliar. Sebanyak 20% berasal dari internal perseroan dan 80% berasal pinjaman pihak ketiga.

BTPN: Proyeksikan Pertumbuhan Kredit 38,21%

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) memproyeksikan pertumbuhan kredit sebesar 38,21% pada 2010. Sedikitnya perseroan menyalurkan kredit baru sekitar Rp5-6 triliun tahun ini. Pada 2009, kredit outstanding perseroan mencapai Rp15,7 triliun atau melonjak 51% dari 2008. Komposisinya adalah 40% kredit mikro dan 60% kredit pensiunan. Perseroan juga akan menerbitkan obligasi senilai Rp700 M pada Mei tahun ini. Rencananya akan ditawarkan obligasi Rp700 M untuk mendukung pertumbuhan. Sekarang sudah diajukan ke Bapepam-LK dan kemungkinan akan keluar pertengahan Mei.

POLY: Asia Pasifik Incar Aset Texmaco

POLY menjajaki untuk mengakuisisi satu unit pabrik benang milik PT Texmaco di Semarang, Jawa Tengah, dan pembangkit listrik di Kerawang, Jawa Barat. Akuisisi dilakukan untuk meningkatkan kapasitas produksi perusahaan serat sintetis yang dahulu bernama PT Polysindo Eka Perkasa Tbk itu. Sekretaris Perusahaan Asia Pasifik Fibers H Tunaryo mengatakan nilai aset satu unit pabrik benang milik Texmaco di Semarang dan Pembangkit Listrik di Kerawang itu belum bisa disebutkan karena belum dilakukan perhitungan.

KARK: Dayaindo Bersiap Rights Issue

PT Dayaindo Resources International Tbk (KARK) berencana melakukan rights issue dalam waktu dekat. Rencana tersebut terkait dengan kebutuhan belanja modal perseroan tahun ini senilai US$ 200 juta.

IPO: Grup Salim Lepas 20% Saham Indopoly Juni 2010

PT Indopoly Swakarsa Industry, produsen film plastik kemasan milik grup Salim, berencana melepaskan 20% sahamnya ke publik (initial public offering/IPO) pada Juni 2010. Rencananya, bookbuilding IPO Indopoly akan digelar pada Mei-Juni 2010, sehingga pencatatan saham (listing) di BEI ditargetkan bisa dilakukan pada akhir Juni 2010.

Earning Watch

TLKM: Raih Laba Bersih Rp 11 Triliun pada 2009

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk mencatat pertumbuhan laba bersih 2009 sebesar 6,7% menjadi Rp 11,3 triliun dari capaian tahun sebelumnya Rp 10,6 triliun. Kenaikan laba tersebut didorong oleh bertambahnya jumlah pelanggan serta efisiensi. Pendapatan perseroan tahun lalu juga bertambah 6,4% menjadi Rp 64,6 triliun dari sebelumnya Rp 60,7 triliun.

Rumor

Rumor di kalangan pelaku pasar menyebutkan bahwa PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan menerbitkan surat utang yang bisa dikonversi saham (convertible bond) pada harga Rp3.366. Sumber menyebutkan, jatuh tempo surat utang itu 3 tahun setelah penerbitan.

Rencana ABN AMRO Bank menambah kepemilikan saham di PT Duta Anggada Realty Tbk (DART) diperkirakan mengangkat saham perseroan ke level Rp250-300. Para bandar menilai, harga DART saat ini telah ketinggalan dari saham properti lain . Duta Anggada dalam waktu dekat akan mengerjakan proyek baru dengan pengembangan properti dari Singapura.

Corporate Actions

Hari ini (9/04), cum date dividen Tri Polyta Indonesia Tbk (TPIA) Rp 50 per saham Ex date (12 Apr 2010)

Earning Watch

  • TLKM: Raih Laba Bersih Rp 11 Triliun pada 2009
  • KIJA: Laba Bersih Naik 126%

Technical Picks

  • GGRM (28100) – Hold
  • DOID (1170) – Trading Buy
  • PGAS (4050) –Spec Buy
  • SMGR (8200) – Sell.
 

(etr/qom)