Pada perdagangan Kamis (15/4/2010), nilai tukar rupiah dibuka menguat ke level 9.005 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.010 per dolar AS.
"Rupiah menguat sangat tajam, ini disebabkan likuiditas global melimpah terutama dari AS, Eropa dan China yang terus masuk ke pasar finansial," jelas ekonom dari BII, Samuel Ringoringo dalam analisanya yang dikutip Kamis (15/4/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyarankan beberapa cara untuk mengendalikan penguatan rupiah yang terlalu cepat itu melalui:
1. Mengurangi lelang SBI atau menurunkan suku bunga SBI 3 dan 6 bulan. Hal ini perlu supaya SBI tidak jadi tempat beranak-pinaknya dana asing jangka pendek.
2. Mengarahkan aliran dana tadi ke SPN (surat utang jangka pendek) agar yield tenor pendek turun dan suku bunga pasar uang terus turun.
3. Mendorong swasta untuk memanfaatkan likuiditas ini untuk mendapatkan modal dengan harga murah (low capital cost) melalui penerbitan obligasi.
4. Langkah kedua dan ketiga tadi akan membuat bank bersaing meraih kredit, karena suku bunga pasar uang rendah (likuiditas melimpah) dan pasar obligasi korporat pun tumbuh. Jika dihadapkan pada situasi ini,Β imbasnya bank akan turunkan suku bunga kredit.
5. Jika yield obligasi turun dan obligasi korporat tumbuh, suku bunga deposito bisa turun lagi. Dengan demikian semakin tidak ada alasan suku bunga kredit tidak turun.
6. Jika skenario ini jalan, likuiditas global jadi memiliki dampak positif ke sektor riil (melalui mekanisme di pasar uang tadi). Sehingga sektor riil bisa bersaing.
7. Penyerapan anggaran harus dipertajam. Pembangunan infrastruktur dikawasan industri diutamakan.
"Jika itu berjalan maka likuiditas global tadi tidak sia-sia. Dan apresiasi rupiah tidak terlalu tajam, bubble di pasar finansial juga bisa dihindari," pungkas Samuel. (qom/dnl)










































