Gerak Rupiah Tidak Normal

Gerak Rupiah Tidak Normal

- detikFinance
Kamis, 15 Apr 2010 12:43 WIB
Gerak Rupiah Tidak Normal
Jakarta - Kinerja rupiah sejak awal tahun sangat mengkilat dibandingkan mata uang regional lainnya. Namun pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak tidak normal sejak Februari.

"Tidak terbantahkan kinerja Rupiah sejak awal tahun sangat mengkilat dibandingkan dengan mata uang di kawasan regional. Kondisi ini memang sangat menggembirakan, karena mencerminkan tingginya kepercayaan investor asing terhadap perkembangan perekonomian domestik," ujar Anton Hendranata, ekonom dari Bank Danamon dalam tinjauan perekonomiannya, Kamis (15/4/2010).

Tingginya ekspektasi itu juga ditunjukkan oleh revisi yang dilakukan oleh sejumlah lembaga internasional dan domestik. Mereka merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke atas.
Β 
Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan Indonesia tahun 2010 sebesar 5,6%, BI juga telah merevisi target pertumbuhannya dari 5,0 – 5,5% menjadi 5,5 – 6,0%. Bank Danamon juga merevisi prediksi pertumbuhannya menjadi 5,6% dari 5,2%, sedangkan ADB memperkirakan Indonesia bisa tumbuh 5,5%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anton menambahkan, tingginya kepercayaan dan ekspektasi investor terhadap perekonomian Indonesia, serta imbal hasil yang sangat menarik dibandingkan negara-negara lain, membuat arus modal yang sifatnya jangka penden masuk ke perekonomian domestik dengan deras.

Dalam seminggu terakhir, nilai beli bersih saham oleh investor asing terus positif. Masuknya dana asing memberikan andil yang cukup signfikan terhadap kenaikan harga saham akhir-akhir ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 14 April 2010 menyentuh 2886, atau melewati indeks pada saat perekonomian menggelembung (bubble) pada tanggal 9 Januari 2008 sebesar 2830, yang akhirnya jatuh pada level 1111 pada tanggal 28 Oktober 2008.

Selain di pasar saham, kepemilikan asing juga meningkat tajam di SBI menjadi Rp. 71,8 triliun per tanggal 9 April dari Rp. 63,1 tiriliun pada akhir Maret.

Namun untuk penguatan rupiah, Anton mengingatkan semua pihak mencermatinya dengan penuh kewaspadaan dan hati-hati karena pergerakan rupiah sejak Februari tidak mengikuti pola pada umumnya.

"Tren Rupiah yang mengarah ke bawah level 9.000/US$ sepatutnya harus dicermati dengan penuh kewaspadaan dan hati-hati. Arah pergerakan Rupiah sejak bulan Februari tidak mengikuti pola pada umumnya," jelas Anton.

Ia menjelaskan, jika dolar AS menguat terhadap mata uang utama dunia, maka biasanya Rupiah cenderung melemah. Namun, sejak bulan Febuari 2010, Rupiah telah mengalami decoupling yakni bergerak di luar perilaku normalnya.

"Yang mengejutkan lagi adalah proses decoupling-nya cenderung makin dalam dari pengalaman historis selama ini," jelas Anton. (Lihat gambar).

Ia menjelaskan, decoupling atau pergerakan rupiah yang tidak seirama dengan indeks dolar AS itu sangat riskan untuk ke depannya. Decoupling itu, menurut Anton, terjadi karena derasnya aliran modal masuk ke emerging markets karena masalah krisis utang Yunani belum ada titik terang.

Sebagai catatan, pada pekan pertama bulan April, secara rata-rata Rupiah mengalami apresiasi sebesar 0,32%, pada saat indeks dolar AS menguat terhadap mata uang G6 sebesar 0,17%. Kinerja positif Rupiah tidaklah sendirian, sebagian besar mata uang Asia juga mengalami penguatan sebesar 0,45% (kecuali Jepang), sedangkan Euro mengalami pelemahan sebesar 0,61%.

Dengan melihat tren jangka pendek penguatan Rupiah dan indeks dolar AS, meningkatnya risk appetite para investor terhadap kawasan emerging markets, dan arus modal masuk ke pasar saham dan SBI di Indonesia, Rupiah akan cenderung mendatar atau sedikit menguat terhadap dolar AS dalam seminggu ke depan.

"Walaupun sekarang Rupiah hampir menembus ke bawah level Rp 9.000/US$, kemungkinannya akan sulit bertahan lama, karena proses decoupling Rupiah sudah sangat dalam," pungkas Anton. (qom/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads