"Tahun ini sekitar US$ 200 juta lah yang dibayar, tahun depan ada US$ 100 juta," ungkap Presiden Komisaris MEDC, Hilmi Panigoro saat ditemui di Graha Niaga, Jalan Sudirman, Jakarta, Sabtu (17/4/2010) malam.
Hilmi mengatakan, perseroan tengah mengkaji opsi pendanaannya. Hingga saat ini, perseroan masih memiliki kas internal sebesar US$ 400 juta, sehingga Hilmi melihat perusahaan yang dipimpinnya itu belum terlalu membutuhkan pendanaan eksternal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, Hilmi tetap membuka kemungkinan mendapatkan pendanaan eksternal dengan syarat kondisi memungkinkan dan memberikan keuntungan bagi perseroan.
"Kita punya pilihan dalam manajemen utang. Kita bisa bikin utang baru, kemudian treasury stock kita hari ini sekitar ada sekitar 11%, atau menjual aset," ujarnya.
Untuk opsi obligasi, Hilmi menilai MEDC baru akan menyentuh instrumen tersebut jika kondisi menunjang yaitu saat suku bunga rendah, sekitar 11%.
"Rencana obligasi selalu ada. Hanya akan kita sentuh kalau kondisinya menunjang. Kalau misalnya kemarin kita harus bayar bunga 13% itu kita gak jadi menerbitkan. Pricingnya gak memungkinkan, ya gak. Kalau proyek-proyek besar kita seperti donggi senoro disetujui membuat rating naik jadi bunga turun. Kalau bunga rendah, sekitar 11% bisalah kita nerbitin. Itulah saat yang tepat untuk kita menerbitkan," ujarnya.
Tahun lalu, MEDC Energi menerbitkan obligasi senilai Rp 1,5 triliun dengan tenor yang dipecah menjadi dua, yaitu jatuh tempo 3 dan 5 tahun. Imbal hasil yang ditawarkan mengacu pada FR18 dan FR51 plus masing-masing antara 250 sampai 400 basis poin.
Β
(dro/dro)











































