Kinerja Emiten BUMN Ungguli Swasta

Kinerja Emiten BUMN Ungguli Swasta

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Rabu, 21 Apr 2010 11:43 WIB
Jakarta - Kinerja emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di pasar modal masih lebih baik ketimbang emiten swasta. Ada beberapa indikator pertumbuhan seperti laba bersih, pembagian dividen, dan rasio utang yang menunjukan hal tersebut.

Demikian hal itu dikemukakan oleh Analis Danareksa Chandra Pasaribu dalam acara Membedah Kinerja BUMN di Pasar Modal di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (21/4/2010).

"Terdapat sekitar 12 BUMN berperforma baik di pasar modal. Baik dalam ukuran minat investasi investor baik asing maupun domestik hingga tercipta likuiditas saham yang tinggi," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan, 12 BUMN ini akan dibandingkan dengan swasta atas dasar kapitalisasi pasar. Periode yang digunakan adalah 5 tahun terakhir karena dianggap cukup mewakili kondisi BUMN maupun swasta tersebut.

Tolak ukur yang digunakan adalah tingkat profitabilitas, tingkat pengembalian melalui pembagian dividen, kesehatan neraca, dan pergerakan saham secara relatif. Chandra mengatakan, dalam 5 tahun terakhir (2005-2009) laba bersih emiten BUMN tumbuh sebanyak 23,7%, sementara non-BUMN hanya sebesar 19,6%.

Perusahaan yang berada di bawah naungan Kementerian BUMN yang melantai di bursa, secara konsisten mendistribusikan dividen rata-rata sebesar 45% dari laba bersihnya dalam 5 tahun terakhir.

"Ini jauh lebih baik dari perusahaan non-BUMN (Top 50 market cap) yang membagikan dividen lebih rendah," ujarnya.

Ia menambahkan, dilihat dari debt to equity ratio, BUMN mempunyai tingkat rasio yang cenderung lebih rendah dan berkurang dalam lima tahun terakhir bila dibandingkan dengan non-BUMN.

"Ini bisa diartikan posisi keuangan BUMN sangat sehat. Akan tetapi leverage adalah pedang bermata dua. Bila dalam posisi under leverage bisa diartikan struktur modalnya tidak optimal guna meningkatkan shareholder's value," jelasnya.

Meski beberapa indikator menunjukan keunggulan BUMN terhadap swasta, ada beberapa hal yang menunjukan kelemahan BUMN, salah satunya pertumbuhan aset.

Pertumbuhan aset BUMN dalam 5 tahun terakhir hanya sebanyak 15,1%, sementara swasta mencapai 17%. Menurut Chandra, hal ini akibat dari strategi pertumbuhan yang lebih konservatif dibandingkan dengan swasta lainnya.

Menurutnya, secara umum BUMN yang mencatatkan saham di bursa menunjukkan performa keuangan yang lebih baik bila dibandingkan swasta. Pencatatan di bursa memaksa BUMN menjadi lebih berorientasi pada shareholder's value dan stakeholder.

"Kemajuan BUMN dalam lima tahun terakhir seharusnya bisa dijadikan tolak ukur bagi BUMN lain yang belum mencatatkan dirinya di bursa," imbuhnya.

(ang/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads