Pencapaian ini didorong oleh peningkatan penjualan gas bumi sebesar 841 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD) sebesar 17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 721 MMSCFD. Dimana 98% dari total volume tersebut mengalir untuk mendukung sektor industri dan tenaga listrik di dalam negeri.
"Kami bersyukur bahwa PGN dapat berkontribusi pada peningkatan daya saing industri dan penghematan biaya BBM untuk listrik di dalam negeri," jelas Direktur Utama PGN, Hendi Prio Santoso,dalam siaran persnya yang dikutip detikFinance, Jumat (30/4/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laba usaha juga naik 6% dari Rp 1,997 triliun pada triwulan-I 2008 menjadi Rp. 2,11 triliun serta adanya peningkatan 2% EBITDA dari Rp 2,43 triliun menjadi Rp. 2,47 triliun hingga akhir Maret 2010.
Selain itu, kinerja keuangan triwulan I-2010 turut didukung kegiatan usaha Perseroan bidang transmisi gas bumi dengan volume sebesar 758 MMSCFD.
"Ke depannya kami mengutamakan upaya pemenuhan pasokan gas bumi untuk kebutuhan di dalam negeri, mengingat kebutuhan yang terus meningkat. Namun hal ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak," ungkap Hendi.
Tren penguatan mata uang Rupiah terhadap mata uang lainnya juga mempengaruhi kinerja keuangan PGN, mengingat terdapat komponen pendapatan dan biaya dalam mata uang US Dollar sedangkan hutang jangka panjang Perseroan seluruhnya dalam mata uang asing US Dollar dan Yen Jepang.
Pada periode triwulan I – 2010 PGN mencatatkan laba selisih kurs (didominasi laba selisih kurs translasi yang sifatnya non-kas) sebesar Rp. 199 miliar dalam laporan laba-rugi konsolidasi. Hal ini disebabkan karena adanya apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan yen.
Pada tanggal 31 Maret 2010, Rupiah mengalami apresiasi terhadap Dollar sebesar 21% dan terhadap Yen sebesar 17% bila dibandingkan periode yang sama tahun 2009.
Tender EPC FSRT Semester II
Selain mencari pasok tambahan gas baru yang dapat dialirkan melalui pipa, pemenuhan pasok gas domestik juga dilakukan PGN melalui pembangungan LNG Floating Storage Receiving Terminal (FSRT) di Jawa Barat dan Sumatera Utara.
"Saat ini proyek tersebut sedang dalam proses penunjukan konsultan manajemen proyek dan rencananya pelaksanaan lelang penunjukan kontraktor pengadaan dan konstruksi akan dilakukan pada semester II tahun ini," kata Hendi.
Operator terminal di Jawa Barat ini akan dilakukan oleh PT Nusantara Regas, Joint Venture Company antara PGN dan Pertamina yang akta pendiriannya ditandatangani 14 April 2010 yang lalu di Jakarta.
(qom/qom)











































