Pada perdagangan Rabu (5/5/2010), rupiah ditutup merosot ke level 9.110 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin di level 9.020 per dolar AS. Di awal perdagangan, rupiah langsung melemah ke level 9.065 per dolar AS.
Di pasar global, mata uang tunggal euro terperosok ke titik terendahnya dalam setahun terakhir atas dolar AS. Investor masih terus mengkhawatirkan krisis utang di Yunani akan menyebar ke negara-negara Eropa lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meski IMF dan Uni Eropa secara nyata telah memfinalisasi paket pembiayaan 3 tahun 110 miliar euro untuk Yunani, pasar finansial masih belum terkesan," jelas Nouriel Roubini, analis dari Roubini Global Economics seperti dikutip dari AFP.
Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono mengatakan, pelemahan rupiah pada hari ini terjadi karena sentimen negatif dari masalah krisis utang Yunani.
"Pelemahan terjadi akibat sentimen negatif Yunani dan ini berdampak pada 'investor apetite' yang menarik kembali penempatan dananya untuk berjaga-jaga," kata Hartadi kepada detikFinance.
Yang bisa dilakukan BI saat ini, lanjut Hartadi, adalah menjaga agar pergerakan nilai tukar rupiah tidak terlalu cepat sehingga membahayakan kestabilan.
"Apabila krisis Yunani segera dapat ditangani, maka negatif sentimen ini akan bersifat sementara," tambahnya.
Sementara Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan, BI hari ini memang melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas dan volatilitas. Namun BI tidak menargetkan pada posisi berapa nilai tukar rupiah seharusnya berada.
"BI selalu memantau dari waktu ke waktu untuk menjaga konsistensi nilai tukar rupiah. jika terjadi pelemahan dan penguatan BI selalu berada di pasar menjaga," jelas Perry.
(dru/qom)











































