Sentimen tersebut juga telah membuat euro semakin terpuruk ke titik terendahnya dalam 14 bulan terakhir. Investor kini beramai-ramai meninggalkan investasi yang berisiko dan menuju tempat investasi yang aman seperti dolar AS dan US Treasury.
Di bursa Wall Street, saham-saham sumber daya alam dan industri yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi terus terdesak. Saham-saham energi termasuk yang merosot seiring anjloknya harga minyak hingga di bawah US$ 80 per barel. Harga minyak tercatat ikut turun 3 dolar ke level US$ 79,97 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada perdagangan Rabu (5/5/2010), indeks Dow Jones ditutup melemah hingga 58,65 poin (0,54%) ke level 10.868,12. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 7,73 poin (0,66%) ke level 1.165,87 dan Nasdaq melemah 21,96 poin (0,91%) ke level 2.402,29.
Perdagangan berjalan sangat ramai dengan nilai transaksi perdagangan adalah yang paling besar sepanjang tahun ini. Transaksi perdagangan di New York Stock Exchange mencapai 12,33 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang mencapai 9,65 miliar.
Namun pelemahan di bursa Wall Street ini lebih menciut ketimbang dibandingkan perdagangan Selasa, saat penurunan mencapai 2%. Kemerosotan di Wall Street juga lebih rendah dibandingkan bursa-bursa di Eropa. Indeks FTSEurofirst 300 tercatat turun hingga 1%.
Michael James, analis senior dari Wedbush Morgan mengatakan, keinginan para pialang untuk mencari kesempatan beli telah menciptakan volatilitas.
"Gambaran besarnya, investor AS ingin terus beropini bahwa koreksi adalah beli," ujar James.
Saham-saham berkapitalisasi besar berhasil menahan laju kemerosotan besar, termasuk Wal-Mart Stores Inc yang turun 1,4% dan Coca-Cola yang turun 0,9%.
Euro Terpuruk
Mata uang tunggal euro tercatat merosot tajam akibat krisis utang Yunani yang belum juga usai meski Uni Eropa dan IMF sudah menegaskan akan memberikan bailout. Investor justru khawatir masalah tersebut akan menular ke negara Eropa lainnya.
Pada perdagangan di New York, euro merosot lagi ke 1,2819 dolar, dibandingkan sebelimnya di level 1,2981 dolar.
"Krisis utang Yunani secara tajam meningkatkan risiko resesi di Eropa," ujar Sam Stovall, analis dari Standard & Poor's Equity Research.
(qom/qom)











































