Pada perdagangan Kamis (6/5/2010), rupiah dibuka merosot ke level 9.200 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9,115 per dolar AS.
Padahal selama triwulan I-2010, nilai tukar rupiah sempat mengukir prestasi terkuatnya. Berdasarkan data Bank Indonesia, nilai tukar rupiah menguat sebesar 2,2% ke level 9.254 per dolar AS. Rupiah bahkan sempat menguat ke 9.007 per dolar AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua itu terjadi ketika pasar sedang sepi sentimen negatif. Sehingga pasar finansial kita mengalami koreksi dan rupiah melemah. Tetapi secara umum, tidak perlu dikhawatirkan. Koreksi memang sudah ditunggu, karena rally sudah cukup panjang. Pasar akhirnya menemukan momentumnya," urai Samuel.
Menurutnya, pelemahan rupiah juga wajar terjadi karena penguatan yang sudah sangat tajam pada perdagangan sebelumnya.Β
"Ingat bahwa rupiah beberapa minggu kemarin adalah rupiah yg terlalu kuat. Hingga beberapa hari ke depan peluang pelemahan masih terjadi, dan BI akan tetap jaga volatilitas," ujarnya.
Yang penting perlu diperhatikan, lanjut dia, adalah pengganti Sri Mulyani secepatnya plus Gubernur BI baru. Seperti diketahui, posisi Gubernur BI juga sudah kosong lebih dari satu tahun lamanya.
"Jangan ditunda-tunda lagi karena kita butuh pemimpin di pasar dan ekonomi secara umum. Hatta Rajasa tidak mungkin bisa handle semuanya karena yang dia awasi dan dikoordinasi juga sudah sangat banyak," tegas Samuel.
Selanjutnya, lanjut dia, perlu upaya penenangan pasar, dengan meyakinkan terus bahwa ekonomi Indonesia jauh lebih baik daripada advanced economies sehingga likuiditas global tetap akan masuk.
"Untuk jangka panjang, harus disiapkan struktur pasar yang baik, yang terhubung dengan sektor riil, sehingga dana yang masuk tidak cuma jangka pendek dan tidak terlalu volatile atau sensitif terhadap rumor," tegasnya.
Pasar obligasi yang sehat harus dibangun, kapitalisasi sektor-sektor di pasar modal harus didiversifikasi.
"Sehingga sumber dana bagi swasta tidak hanya bank, tapi jug pasar modal dan utang. Sehingga likuiditas yang masuk bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan bisnis," pungkas Samuel.
(qom/qom)











































