Wall Street Kian Terpuruk

Wall Street Kian Terpuruk

- detikFinance
Sabtu, 08 Mei 2010 10:04 WIB
Wall Street Kian Terpuruk
New York - Saham-saham di bursa Wall Stret melanjutkan pelemahannya setelah sehari sebelumnya mengalami 'misteri' kejatuhan saham terbesar. Saham-saham terus terpuruk di teritori negatif karena kekhawatiran krisis likuiditas babak kedua sebagai rentetan krisis utang di Yunani.

"Krisis utang di Eropa adalah isu besar yang tidak akan hilang secepatnya. Tapi apa yang terjadi kemarin, investor merasa lebih khawatir lingkungan saat ini tidak aman," jelas Stephen Massocca, managing director Wedbush Morgan seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (8/5/2010).

Pada perdagangan Jumat (7/5/2010), indeks Dow Jones ditutup merosot 139,89 poin (1,33%) ke level 10.380,43. Indeks Standard & Poor's 500 juga merosot 17,27 poin (1,53%) ke level 1.110,88 dan Nasdaq merosot 54 poin (2,33%) ke level 2.265,64.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk pekan ini, Dow Jones tercatat melemah 5,7%, S&P 500 merosot 6,4% dan Nasdaq ambles 8%. Dalam 2 pekan terakhir, Nasdaq bahkan anjlok hingga 10%, melebihi batas yang disebut pialang sebagai sebuah koreksi.

Namun pelemahan di Wall Street ini setidaknya lebih baik ketimbang pada perdagangan Kamis, ketika saham-saham secara misterius tiba-tiba menjadi nol sehingga menyebabkan indeks Dow Jones anjlok hingga hampir 1.000 poin.

Para pialang menduga telah terjadi kesalahan teknis. Namun sentimen negatif memang ada di pasar menyusul krisis utang di Yunani yang tak kunjung ditangani sehingga dikhawatirkan bisa merebak ke negara Eropa lainnya.

Nasdaq mengalami kemerosotan terbesar pada perdagangan akhir pekan ini. Saham Apple Inc turun hingga 4,2%, Intel Corp turun 0,9%.
Β 
Pasar tidak dapat mengembalikan gain meski ada laporan bahwa kejatuhan harga saham-saham kemungkinan disebabkan salah teknis ataupun kesalahan order pialang. Sentimen positif dari data pengangguran AS juga tidak memberikan dampak yang besar.

"Saham-saham mendapatkan dukungan di awal-awal perdagangan karena pelaku pasar berspekulasi terjadinya rebound setelah pasar menghadapi kejatuhan saham-saham hingga 6% selama 3 sesi terakhir," ujar analis dari Briefing.com seperti dikutip dari AFP.

Perdagangan saham masih cukup ramai dengan transaksi di New York Stock Exchange mencapai 17,6 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu yang mencapai 9,65 miliar.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads