Salah satu kasus adalah ketika krisis utang Yunani menghempaskan pasar finansial global. Investor menjadi panik sehingga pasar saham dunia mengalami koreksi tajam dan mata uang dunia berjatuhan terhadap dolar AS pada pekan lalu.
Investor berbondong-bondong meninggalkan aset yang berisiko tinggi di Emerging Markets dan kawasan Uni Eropa, kemudian memegang aset yang berisiko rendah yaitu Dolar AS dan Obligasi pemerintah AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 7 Mei 2010, nilai tukar rupiah tercatat merosot hingga 2,1% menjadi Rp 9.216 per dolar AS, dibandingkan per 4 Mei yang ada di level 9.025 per dolar AS. Namun rupiah bisa tenang dan pada 10 Mei berada di level 9.075 per dolar AS, setelah Uni Eropa dan IMF mengumumkan pemberian dana talangan sebesar 750 miliar euro.
"Melihat perilaku Rupiah di atas, tidak bisa dipungkiri bahwa Rupiah sangat sensitif terhadap sentimen global," ujar Anton Hendranata, ekonom dari Bank Danamon dalam tinjauan ekonomi yang dikutip detikFinance, Rabu (12/5/2010).
Anton menjelaskan, pergerakan rupiah selama sejak awal tahun ini memang ditopang oleh derasnya arus modal asing ke pasar saham, SBI dan obligasi pemerintah.
"Oleh karena itu, tidaklah mengherankan ketika ada sentimen negatif global dan domestik terjadi arus modal asing keluar, mengakibatkan Rupiah terkoreksi," katanya,
Oleh karena itu, lanjut Anton, tidak mengherankan ketika ada sentimen negatif global dan domestik terjadi arus modal asing keluar, mengakibatkan Rupiah terkoreksi. Hal ini terlihat jelas di pasar saham, dimana nilai beli bersih saham oleh investor asing anjlok tajam, namun beberapa hari kemudian kembali meningkat lagi.
Ia memaparkan, dengan melihat tren jangka pendek penguatan Rupiah dan indeks Dolar AS, sentimen global terutama di Eropa, dan arus modal masuk ke pasar saham dan SBI di Indonesia, Rupiah akan cenderung kembali akan menguat terhadap dolar AS dalam seminggu ke depan, setelah mengalami koreksi sangat tajam.
"Walaupun demikian, risiko terjadinya pengetatan likuiditas global dalam beberapa waktu ke depan belum hilang sepenuhnya," pungkas Anton.
(qom/dro)











































