Hal itu disampaikan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono ketika ditemui di Gedung DPR-RI, Senayan, Jakarta, Rabu (12/05/2010).
"Mengkhawatirkan enggak, tapi kalau untuk siap-siap untuk hal terburuk, itu tetap harus dilakukan. Belajar dari krisis yang lalu yang harus kita jaga-jaga adalah diperlukannya dana yang besar untuk menutup likuiditas," urai Hartadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nanti pun kalau worst case-nya terjadi pemburukan keluar lagi, tapi masih in order, kita masih bisa tidur nyenyak," tegas Hartadi.
Pada perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah ditutup menguat ke level 9.090 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.120 per dolar AS. Nilai tukar rupiah sempat merosot jauh mendekati level 9.400 per dolar AS pada pekan lalu, ketika krisis Yunani mengguncang pasar finansial global.
Ketika kekhawatiran investor memuncak pada pekan lalu, Hartadi mengungkapkan ada Rp 10 triliun Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang dicairkan. Namun Rp 10 triliun itu tidak semuanya keluar dari Indonesia, karena sebagian lagi ada yang masuk ke Surat Utang Negara (SUN).
Dana-dana yang keluar dari SBI itu, menurut Hartadi hingga hari ini belum masih masuk lagi karena keragu-raguan investor.
"Tapi patut dibaca, keluarnya pun yang Rp 10 triliun itu masih teratur, still in order karena dalam beberapa hari," jelasnya.
Hartadi juga melihat kondisi nilai tukar rupiah kini sudah semakin membaik dengan rata-rata pergerakan di kisaran 9.100-an per dolar AS. BI tidak menjaga rupiah pada kisaran tertentu.
"Level tidak kita jaga, tapi kita jaga pergerakannya, kecepatannya. Kalau melemah terlalu cepat, nanti teman-teman masuk. Walaupun di 9.200 (per US$), tapi kalau melemah terlalu cepat, kita akan jaga," katanya.
(qom/qom)











































