Demikian disampaikan Presiden Direktur PTRO, Richard Ness usai RUPS Tahunan di Hotel Dharmawangsa, Jalan Brawijaya, Jakarta, Senin (17/5/2010).
"Pembagian 100% dari laba bersih. Kami yakin karena posisi kas kami kuat. Laba ini juga setelah provisi, jadi harusnya lebih besar," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perseroan juga mencetak kenaikan pada laba usaha 263,29% menjadi US$ 39,49 juta, dibandingkan dengan posisi tahun sebelumnya US$ 10,87 juta. Naiknya laba usaha dikarenakan penurunan berbagai biaya.
Akibat perbedaan kurs, maka laba bersih Petrosea tercatat melemah 10,67% dari US$ 1,78 juta menjadi US$ 1,59 juta di akhir tahun 2009.
"Laba bersih perusahaan sedikit lebih rendah US$ 1,6 juta," katanya.
Pemegang saham PTRO akhirnya merestui pinjaman terafiliasi sebesar US$ 140 juta dari Indo Integrated II BV, anak usaha PT Indika Energy Tbk (INDY).
"Ya sudah disetujui, transaksi terafiliasi ini," ujar Corporate Secretary PTRO Anang Rizkani Noor.
Dana tersebut akan digunakan PTRO untuk memperluas kapasitas armada alat berat pertambangan milik perseroan senilai US$ 110 juta, serta untuk pengembangan Petrosea Off Shore Supply Base senilai US$ 30 juta.
Sebelumnya perseroan telah menandatangani pemberian pinjaman sebesar US$ 140 juta Indo Integrated II BV, anak usaha INDY. Dana pinjaman tersebut berasal dari penerbitan surat utang Indo Integrated II BV sebesar US$ 230 juta.
Pinjaman US$ 140 juta yang diterima PTRO merupakan pinjaman terafiliasi yang berasal dari salah satu anak usaha INDY yang lain, yaitu Indo Integrated II BV. INDY adalah pemegang mayoritas (98,55%) saham PTRO.
Penandatangan perjanjian pinjaman telah dilakukan pada 1 April 2010 lalu, antara PTRO dengan Westlake Resources Holdings Ltd. Westlake merupakan anak usaha INDY melalui PT Indika Inti Corpindo dengan kepemilikan 100%.
Pada 5 November tahun lalu, Indo Integrated II BV menerbitkan surat utang senilai US$ 230 juta. Dana tersebut kemudian dikucurkan seluruhnya kepada Westlake dalam bentuk pinjaman berjangka waktu 7 tahun. Westlake kemudian mengucurkan US$ 140 juta kepada PTRO dan akan jatuh tempo pada tahun 2016.
(wep/dro)










































