Demikian disampaikan Presiden Direktur PTRO Richard Ness seusai RUPST, di Hotel Dharmawangsa Jalan Brawijaya, Jakarta, Senin (17/5/2010).
"Iya ada tiga kontrak yang sedang diincar," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun sayang, Hanifa belum mau menjelaskan nilai kontrak yang dimaksud serta kontrabusi yang akan dihasilkan. Sepanjang tahun 2009, perseroan memperoleh sebesar kontrak US$ 672 juta, meningkat 76% dibanding tahun sebelumnya.
"Ini sensitif. Karena ini terkait dengan penambahan modal (US$ 140 juta dari anak usaha INDY, Indo Integrated II BV)," ujar Corporate Secretary PTRO Anang Rizkani Noor.
Sampai akhir 2009 perseroan memiliki tiga kontrak dari tiga perusahaan pertambangan. Mereka diantaranya, PT Gunung Bayan Pratama Coal, dengan back log value US$ 243,8 juta, kemudian PT Santan Batubara (join dengan Arutmin 50:50), dengan back log value US$ 221,6 juta. Terakhir adalah PT Ademitra Baratama Nusantara (ABN), dengan back log value US$ 183,2 juta.
Sepanjang tahun 2010 perseroan menargetkan dapa memproduksi batubata (overburden) 135 juta tcf, atau mengalami peningkatan 35-45 juta tcf dibanding posisi tahun lalu yang sebesar 90 juta tcf.
Untuk memenuhi target tersebut, perseroan telah menganggarkan belanja modal US$ 100-110 juta. Sebagian besar akan digunakan untuk perbaikan alat berat yang dimiliki perseroan di jasa pertambangan lama, atau yang akan didapat.
"Kita pakai dana plafon yang sudah direstui dari pemegang saham US$ 140 juta. Ini fleksibel, kapan saja dibutuhkan mereka siap. Ini untuk capex dua tahun kedepan," ungkap Hanifa.
(wep/dro)











































