Demikian disampaikan Moody's Vice President dan Senior Credit Officer Laura Acres dalam rilisnya yang diterima detikFinance di Jakarta, Senin (17/5/2010).
"Langkah ini dilakukan akibat penurunan kinerja keuangan BUMI dan likuiditas yang tinggi serta risiko refinancing pada perusahaan induk (BNBR)," ujar Acres.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perolehan kas perseroan masih disumbang oleh dua perusahaan batubara besar di Indonesia, KPC dan Arutmin. Namun hal ini tidak bisa menutup utang yang tercatat di neraca perseroan dalam 12 bulan ke depan.
"Khususnya utang yang jatuh tempo di triwulan IV-2010 sebesar US$ 578 juta, dan US$ 150 juta utang obligasi jangka menengah dan obligasi konversi induk usaha, BUMI sebesar US$ 428 juta, termasuk premi," ujar Acres.
BUMI juga memiliki saham treasury sebesar US$ 128 juta dan siap dicairkan untuk kebutuhan dana perseroan. Moody's menilai saham ini punya tingkat ketidakpastian yang tinggi dalam eksekusinya.
Moody's tetap akan memantau pergerakan pengurangan utang dan aksi refinancing di perusahaan induk, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR).
Langkah ini juga untuk menilai kemampuan BUMI dalam mengkonsolidasikan proyeksi kinerja perseroan dan mengembangkan cushion di bawah perjanjian financial.
(wep/dnl)











































