Pada triwulan I-2010, nilai piutang pembiayaan konsumen BFIN tercatat sebesar Rp 1,944 triliun, turun 13,17% dari periode yang sama tahun 2009 sebesar Rp 2,239 triliun.
Penurunan ini terjadi seiring dengan menyusutnya pinjaman yang diterima perseroan di triwulan I-2010 menjadi sebesar Rp 622,117 miliar, anjlok 60,81% dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 1,587 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurunnya kucuran pembiayaan perseroan telah menyebabkan pendapatan BFIN menurun 10,22% menjadi Rp 215,088 miliar di triwulan I-2010 dari sebelumnya Rp 239,577 miliar di triwulan I-2009.
Kendati demikian, BFIN masih mencatat peningkatan laba bersih sebesar 29,51% menjadi Rp 91,192 miliar dari sebelumnya Rp 70,411 miliar. Kenaikan laba bersih didorong oleh penurunan pos beban sebesar 32,81% menjadi Rp 97,655 miliar dari sebelumnya Rp 145,358 miliar.
Meski demikian, penurunan kucuran pembiayaan BFIN tampak sangat kontras dengan kinerja perusahaan pembiayaan lain yang tercatat di BEI. Saat ini, ada sebanyak 9 emiten pembiayaan yang tercatat di BEI.
Total nilai pembiayaan 9 emiten tersebut tercatat sebesar Rp 10,438 triliun di triwulan I-2010, meningkat 9,70% dari periode yang sama tahun 2009 sebesar Rp 9,515 triliun. PT Adira Multi Dinamika Finance Tbk (ADMF) menyumbangkan kenaikan kucuran pembiayaan terbesar yakni mencapai Rp 2,834 triliun di triwulan I-2010 dari sebelumnya Rp 1,620 triliun.
Dari 9 emiten tersebut, penurunan kucuran pembiayaan hanya terjadi pada BFIN dan PT WOM Finance Tbk (WOMF). Pembiayaan WOMF menyusut dari Rp 2,705 triliun menjadi Rp 2,174 triliun. Sama seperti BFIN, pinjaman bank yang diterima WOMF juga menyusut dari Rp 716,316 miliar menjadi Rp 153,565 miliar.
Total pinjaman bank yang diterima 9 emiten tersebut tercatat sebesar Rp 3,635 triliun di triwulan I-2010, menurun 25,72% dari periode yang sama athun 2009 sebesar Rp 4,918 triliun. Penurunan pinjaman terbesar, disumbang oleh BFIN yang mengalami penyusutan pendanaan perbankan 964 miliar menjadi Rp 622,117 miliar dari sebelumnya Rp 1,587 triliun. (dro/dnl)











































