Pada perdagangan Rabu (19/5/2010) di Tokyo, euro merosot ke level 1,2144 dolar AS, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan di New York 1,2162 dolar.
Euro terus tertekan meski sebelumnya Uni Eropa dan IMF telah menyepakati paket penyelamatan untuk mencegah menyebarnya krisis utang Yunani senilai US$ 1 triliun. Investor khawatir dana tersebut tidak akan cukup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sentimen negatif terbaru, seperti dilansir dari AFP adalah berkaitan dengan keputusanΒ untuk melarang naked short selling untuk 10 saham institusi finansial penting negara tersebut. Naked short selling terjadi ketika investor menjual saham-saham tanpa meminjamnya terlebih dahulu.
Ekonom dari BII, Samuel Ringoringo mengatakan, kondisi Uni Eropa yang makin mengkhawatirkan membuat kemungkinan euro 'pair' dengan dolar AS(1 EUR = 1 US$) semakin besar.
"Sekarang kita harus waspada. Memang benar saat ini volatilitas pasar domestik masih disebabkan oleh naiknya persepsi risiko, tetapi bila berlangsung berminggu-minggu maka fundamental kita bisa kena, disebabkan oleh melemahnya ekspor (akibat turunnya harga komoditas yang dipicu jatuhnya euro dan harga minyak),Β dan capital flight menuju 'safe heaven' seperti emas dan US-treasuries," urai Samuel
Otoritas ekonomi di Indonesia, lanjut Samuel, juga harus mulai memikirkan sejumlah antisipasi karena situasi kali ini sangat tricky yakni harga minyak jatuh tetapi kurs dalam tekanan.
"Bilamana situasi euro terus memburuk, harga komoditas juga terus turun, maka penurunan suku bunga bisa menjadi pilihan, mengingat terbatasnya pilihan di sisi fiskal demi menjaga rasio defisit," imbuhnya.
(qom/qom)











































