"Kami ingin kerjasama yang konkrit. Kemungkinan membentuk joint venture dengan Antam," ujarΒ Β DirekturΒ Utama PT INCO Tbk, Tony Wenas di Jakarta, Kamis (27/5/2010).
Tony menyatakan, hingga kini rencana tersebut masih dalam tahap pembicaraan dengan pihak Antam. Namun kemungkinan dalam kerjasama ini, kedua perusahaan tersebut akan bekerjasama mulaiΒ dari kegiatan penambangan (hulu) hingga membangun pabrik pengolahan (smelter).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sudah bicara sama Antam. Tapi Bentuk kerjasamanya seperti apa kami masih belum tahu," jelasnya.Tony juga masih belum mengetahui apakah INCO akan menjadi mayoritas atau tidak dalam kerjasama tersebut."Soal itu kami juga belum tahu. Yang jelas kami harapkan kerjasama ini akan berikan keuntungan bagi INCO dan Antam," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Tony menyatakan pihaknya juga telah mengajukan pelepasan 32 ribu hektar dari 218 ribu hektar di wilayah Kontrak Karya (KK) miliknya."Selain area itu belum digarap, pelepasan area ini juga untuk meng akomadasi aspirasi daerah. Kita sudah ajukan ke pemerintah pusat. nanti eks wilayah KK itu untuk apa, itu terserah pemerintah," jelasnya.
Menurut Tony, pelepasan area tersebut bukanlah yang pertama yang dilakukan perseroan. Awalnya, INCO memiliki 6,6 juta hektar dan kini tersisa 218 ribu hektar.Dari total lahan yang dimilikinya, baru sekitar 10 ribu hektar yang sudah dieksploitasi. Sementara KK INCO akan berakhir pada tahun 2025. "Jadi sekarang sudah 97 persen lahan kami lepas. Pelepasan ini kami lakukan karena wilayah kami terlalu besar," jelasnya.
Pada tahun ini INCO menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 257 juta pada tahun ini. Dana itu berasal dari kas internal perseroan.
Pada kuartal I 2010, Inco telah menjual sekitar 19.811 Metric Ton Nikel. Saat ini 100 persen hasil produksi Nikel perseroan diekspor ke Jepang.
(epi/ang)











































