Krisis Eropa dan Inflasi Tak Pengaruhi Pasar Obligasi

Krisis Eropa dan Inflasi Tak Pengaruhi Pasar Obligasi

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Rabu, 02 Jun 2010 14:59 WIB
Jakarta - Industri obligasi bersiap mencapai prestasi yang lebih besar dari tahun lalu, yang tercatat Rp 30 triliun. Krisis yang melanda Eropa, khususnya Yunani dan kenaikan inflasi pada triwulan III-2010, diyakini tidak mempunyai pengaruh besar.

Menurut Presiden Direktur Standard Chartered Securities Indonesia, Daniel W. Nainggolan, Indonesia masih memiliki fundamental ekonomi yang baik. Hingga investor tetap akan melirik pasar domestik.

"Issue beberapa tahun terakhir kan 16% dan berangsur-angsur turun hingga saat ini. Meskipun begitu, tetap ada yang beli bond. Indonesia masih strong," papar Daniel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, pasar obligasi masih mengambil acuan ke Surat Utang Negara (SUN). Dan untuk menarik investor, maka instritusi yang bersangkutan akan menambah spread.

"Eropa juga tak banyak pengaruh. Kalau disana bermasalah, maka mana tempat tujuan mereka? Indonesia, karena cap-nya besar. Kalau lari ke dollar, mereka mau dapat berapa," katanya.

Hal yang sama juga diamini oleh Senior Manager Standard Chartered Securities, Yuniar Restanto. "Industri akan bisa mencapai seperti tahun lalu, dan cenderung naik sedikit," jelasnya.

Lanjutnya, "Untuk menghitungnya gampang. Tahun ini berapa yang mature, ada Rp 11 triliun kan kalau paparan dari pak David (Danareksa). Itu kan pasti akan terserap lagi," imbuhnya.

Obligasi yang jatuh tempo tersebut, banyak yang akan jatuh tempo di paruh ke-2 tahun 2010. Sehingga, korporasi banyak menggenjot keluarnya surat utang ini hingga akhir semester-I 2010.

"Peak-nya akan di Juni-Juli. Apalagi akan ada yang besar, BTN, PLN, Telkom. CIMB juga sebentar lagi akan keluar. Triwulan-III IV baru bond yang mature," paparnya.

(wep/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads