Demikian disampaikan Presiden Direktur PT NISP Sekuritas, Sigit Wiryadi saat ditemui di Hotel Ritz Calton, Pasific Place, SCBD Jakarta, Rabu (2/6/2010).
"Kita dapat Rp 1 (triliun). Akan ada dua lagi (Rp 2 triliun). Kita sedang usahakan," paparnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya kita lihat juga nanti inflasi. Kalau suku bunga naik, pengaruhnya harga menjadi mahal. Ada kekhawatiran tidak terserap oleh pasar. Dengan suku bunga ini, banyak korporasi yang menahan diri," jelasnya.
Namun kekhawatiran ini disanggah oleh Managing Director Invesment Banking PT Danareksa Securities, David Agus. Menurutnya, bukan menjadi kekhawatiran obligasi tidak diserap oleh pasar. Indonesia masih dianggap baik sebagai tempat berinvestasi.
"Year to date sampai saat ini, obligasi sudah Rp 7-8 triliun. Sepanjang Januari sampai Desember akan ada yang matture (jatuh tempo), nilainya Rp 11 triliun. Itu kan akan masuk ke pasar juga," imbuh David.
Lanjutnya, capital inflow di pasar sekunder juga dipercaya akan terus mengalir. Utama untuk produk surat utang pemerintah (SUN). "Secondary market akan masuk ke goverment bonds karena likuiditasnya tinggi. Year to date, yield cenderung turun. Posisinya akan lebih rendah," pungkasnya.
Â
Â
(wep/dro)











































