Muhammad Fikri, analis dari BNI menjelaskan, kekhawatiran investor bahwa krisis utang yunani akan berimplikasi ke Negara lainnya di Eropa bukan tanpa alasan. Seperti diberitakan, pada 29 Mei 2010, Fitch telah menurunkan rating utang Spanyol menjadi AA+ dengan outlook stabil.
"Penurunan rating hutang Spanyol dari AAA yang telah dipertahankan selama 7 tahun (sejak tahun 2003) menjadi AA+ pada tahun ini tentunya menandakan bahwa kondisi perekonomian spanyol menurun," jelas Fikri dalam analisanya, Senin (7/6/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, kondisi tersebut menjadi trigger utama melemahnya euro terhadap dlar AS pada Jumat, 4 Juni 2010 menjadi US$ 1,19 yang merupakan titik terendah euro terhadap dolar AS dalam 4 tahun terakhir.
Di saat yang bersamaan, lanjut Fikri, Pemerintah US mengumumkan data pertumbuhan pekerjaan di Amerika yang mengecewakan. Angka pertumbuhan pekerjaan di Amerika memang meningkat menjadi 431,000 pada bulan mei, akan tetapi angka tersebut jauh dari ekspektasi pasar pada angka 536,000.
Disisi lain pasar juga mengkhawatirkan lambatnya pertambahan pekerjaan di sektor swasta Amerika Serikat, dimana menurut sensus pemerintah hanya bertambah 41,000 posisi pada bulan mei atau jauh dibawah estimasi pasar pada angka 139,000.
"Pasar mempertanyakan apabila para karyawan tidak kembali bekerja maka darimana mereka akan mendapatkan penghasilan, dampaknya purchasing power masyarakat tidak akan meningkat dan pendapatan perusahaan pun tidak akan meningkat, ini artinya pemulihan ekonomi di Amerika tidak akan berlangsung secepat yang diharapkan," urainya.
Β
Sebagai implikasi munculnya sentiment negatif dari Eropa dan Amerika, pada hari yang bersamaan indeks Dow Jones jatuh 3,15% dibawah 10,000 atau mendekati titik terendahnya pada bulan Februari 2010.
Apa implikasi kondisi tersebut terhadap pergerakan IHSG minggu depan?
Fikri menjelaskan, mengingat bursa Amerika selalu menjadi acuan pergerakan IHSG dan Investor asing masih menguasai 65% dari total kapitalisasi pasar bursa Indonesia, maka minggu depan IHSG akan berada dibawah tekanan global dan sentimen eksternal baik itu krisis Eropa dan kondisi ekonomi Amerika akan menjadi trigger utama pergerakan IHSG.
"Disisi lain secara tekhnikal IHSG sedang mengalami kondisi downtrend, walaupun kepala Bapepam-LK mengatakan bahwa penurunan yang terjadi bukan karena capital outflow, hanya saja kondisi 'uncertainty' yang terjadi di Eropa dan Amerika dapat mendorong pihak asing mengalihkan asset mereka ke safe heaven seperti Treasury bills, emas dan USD," urainya.
"Terlebih kenaikan IHSG sejak akhir tahun 2009 sudah sangat tinggi dibandingkan indeks lainnya di dunia," imbuh Fikri.
(qom/qom)











































