Pada perdagangan Senin (7/6/2010), nilai tukar rupiah sempat merosot hingga 9.285 per dolar AS, dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di level 9.210 per dolar AS.
Kemerosotan rupiah terjadi bersamaan dengan anjloknya euro terhadap dolar AS. Pada perdagangan Senin di pasar Asia, euro sempat merosot ke 1,1882 dolar sebelum akhirnya membaik ke level 1,190 dolar dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di level 1,1967 dolar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anjloknya euro terhadap dolar AS, kabar dari Hungaria dan kekecewaan atas data pengangguran AS meyakinkan kita ketidakpastian perekonomian global mungkin bertahan lebih lama. Dan ini tentu saja menempatkan pasar pada situasi yang penuh gejolak," ujar Samuel Ringoringo dalam analisanya yang dikutip detikFinance, Senin (7/6/2010).
Samuel menjelaskan, kondisi tersebut akan memaksa Eropa dan AS memperpanjang suku bunga rendahnya. Dampaknya, likuiditas global yang kini sedang membanjir di pasar akan terus ada pada periode yang lebih lama.
Selain itu, dolar AS dan emas juga diprediksi akan meneruskan penguatannya karena investor terus berburu instrumen investasi yang aman. Namun di tengah besarnya likuiditas di pasar, aliran modal di emerging markets diprediksi tidak akan keluar. Investor akan terus berburu aset-aset yang murah.
"Pada dasarnya, dengan mempertimbangkan pergerakan mata uang yang bergejolak akhir-akhir ini, kami melihat BI akan tetap menjaga volatilitas, namun tidak mengarahkannya," ujar Samuel.
Di tengah kondisi pasar yang bergejolak lagi, Samuel memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak pada kisaran 9.190 hingga 9.350 per dolar AS selama pekan ini. (qom/dnl)











































