"Yang terpenting adalah sinergi frekuensi dan infrastruktur. Sinergi akan bagus karena ada penggabungan pelanggan Flexi 15 juta dan 11 juta Esia. Tapi saya belum terima penawaran dari Telkom," jelasnya CEO BNBR Boby Gafur saat ditemui di Hotel Mid Plaza Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selasa (8/6/2010).
Bentuk sinergi yang memang santer tengah dibicarakan antara Telkom, Bakrie Telecom dan Kementerian BUMN, menurut Boby menjadi langkah yang baik. Pasalnya frekuensi yang tadinya diperebutan beberapa dua pemain besar di pasar CDMA, akan menyatu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"BTEL juga terima penawaran dari Telkom selaku anak usaha Telkom Flexi," paparnya.
Skema penggabungan ini masih dalam pembahasan intensif antara kedua belah pihak. Ini ditegaskan Direktur Utama TLKM Rinaldi Firmansyah. Manajemen BTEL pun masih bungkam soal skema yang akan digunakan.
Sinergi ini dipastikan Kementerian BUMN, Mustafa Abubakar, bertujuan untuk mengonsolidasikan dua usaha yang memimpin bisnis operator berbasis Code Division Multiple Access (CDMA) yakni Telkom Flexi dan Esia, yang tentunya akan menghasilkan satu perusahaan telekomunikasi yang sangat kuat.
Rinaldi menegaskan pula, proses ini akan memakan waktu kurang lebih 4 bulan. Setelah berubah status menjadi PT Telkom Flexi, proses merger dapat dilaksanakan.
Β
(wep/dro)











































