Hingga kini, kedua belah pihak belum menandatangani perjanjian pengalihan kepemilikan, karena belum sepakat perihal Closing Perfect Clean.
Demikian disampaikan Direktur Utama UNSP Ambono Janurianto, seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Mid Plaza, Jalan Jenderal Sudirman Jakarta, Selasa (8/6/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum sepahamnya Closing Perfect Clean yang dimaksudkan, merupakan bentuk pengalihan utang dari sindikasi perbankan, selain Bank Mandiri dan juga P&G khususnya restrukrisasi dan diversifikasi aset.
"Kita sebagai perusahaan terbuka, inginnya mengurangi bahkan menghilangkan risiko atas apapun juga ke depannya. Masa saya i'm open naked? Kalau ada klaim dan ada risiko tersebut, itu kan risiko," jelasnya.
Namun manajeman UNSP berjanji akan melakukan pembiacaraan kembali dengan Domba Mas pada minggu depan. "Kita inginnya barter, yaitu sama-sama melakukan sesuatu. Kalau sudah siap tandatangan," ungkap Ambono.
Produksi oleochemical yang merupakan produk turunan palm kernel, dari Domba Mas sebesar 28 - 30 ribu ton, juga dipastikan akan tertunda.
Seperti diketahui, akuisisi ini merupakan langkah strategis perseroan. Ke depan fasilitas pengolahan oleochemical akan menjadi yang terbesar di Indonesia dan berada dalam satu area, yang memiliki standar kualitas tinggi karena menggunakan teknologi lurgi.
"Dengan ini maka (produksi) akan mundur. Dari Mei sudah siap, maka bisa sudah commertial operation di Juli. Mundur jadi triwulan-IV, kalau ditutup hari ini. Namun produksi juga tidak bersar, hanya 100 ton per hari," paparnya.
Khusus untuk produksi CPO, perseroan pun membidik pertumbuhan menjadi 320 ribu ton di 2010, dari posisi tahun sebelumnya 279 ribu ton. "Penambahan ini tidak banyak, karena sawit kita usianya muda. Ini termasuk yang baru kita akuisisi 2.500 ha yang tertanam, dari 18 ribu ha lahan milik perseroan," imbuhnya.
Â
Â
(wep/dro)











































