Dari awal tahun sampai bulan April 2010, secara umum kinerja mata uang rupiah dan negara-negara Asia lainnya (tidak termasuk Jepang) cukup baik. Secara rata-rata Rupiah menguat sebesar 4,5%, sedangkan indeks mata uang Asia menguat sebesar 2,0%, pada saat indeks Dolar AS menguat sebesar 5,8%.
"Namun akhirnya karena gejolak di Eropa dan pasar keuangan AS pada bulan Mei, hampir sebagian besar mata uang dunia rontok terhadap dolar AS, kecuali yen Jepang," Anton Hendranata, ekonom dari Bank Danamon dalam tinjauan perekonomian bulanannya yang dikutip detikFinance, Rabu (9/6/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika tidak ada intervensi dari BI, mungkin Rupiah terperosok makin dalam. Pada awal April, Rupiah berada pada level Rp. 9.087/US$, kemudian terkoreksi pada level Rp. 9.265/US$ per 8 Juni 2010," imbuhnya.
Namun ia menggarisbawahi, mengingat masih relatif kuatnya fundamental perekonomian Indonesia, maka nilai tukar rupiah diprediksi akan kembali bergerak menuju Rp 9.150 per dolar AS pada akhir tahun.
"Akan tetapi dalam jangka waktu dekat ini mungkin masih ada tekanan melemah, seiring dengan masih tingginya kekhawatiran kondisi utang di Eropa," kata Anton.
Pada perdagangan Selasa (8/6/2010), nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis ke level 9.260 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.265 per dolar AS. Rupiah sempat merosot jauh menembus level 9.300 per dolar AS pada awal pekan ini seiring rontoknya pasar finansial global menyusul kabar buruk dari Hungaria yang kemungkinan menghadapi gagal bayar.
Krisis di Eropa juga sempat menjungkalkan mata uang tunggal euro terhadap dolar AS hingga ke titik terendahnya dalam 4 tahun terakhir. Namun pada perdagangan Selasa kemarin, dolar AS akhirnya melemah juga. Euro tercatat berhasil menguat ke 1,1967 dolar, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 1,1919 dolar. Euro bahkan sempat menembus lagi 1,2 dolar.
(qom/qom)











































