Demikian disampaikan Direktur Utama SGRO, Eka Dhamajantokasih dalam paparan publik di Kantornya, Jalan DR. Satrio, Jakarta, Rabu (9/6/2010).
"Capex total sekitar Rp 500 miliar untuk semuanya," jelas Eka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biaya replanting sekitar US$ 3.500-4.000 per ha untuk empat tahun pertama," jelas Investor Relation SGRO Michel Kesuma.
Dengan penambahan lahan tertanam sawit, diharapkan akan memberi kontribusi atas produksi CPO perseroan sekitar 5-10% di tahun 2010. Volume penjualan perseroan juga akan meningkat di level 10%, seiring dengan semakin banyaknya lahan siap panen (mature), atau setara dengan 1,3 juta ton.
"CPO akan ada peningkatan sekitar 10% dari tahun lalu 1,2 juta ton baik penjualan atau produksi," ungkapnya.
Belanja modal juga digunakan untuk biaya penambahan modal di anak usaha perseroan (PT Sampoerna Bio Fuel) secara tidak langsung di PT National Sago Prima (NSP) dari 75,5% menjadi 95% pada Juni 2010.
"Biaya untuk tambah modal US$ 12 juta," kata Eka.
Perseroan juga berencana membangun pabrik Sago, mulai Sptember 2010, dengan investasi US$ 7-8 juta. Perseroan juga mendapat fasilitas pinjaman dari perbankan pemerintah dengan jumlah Rp 150 miliar. Fasilitas pinjaman sudah termasuk dalam alokasi belanja modal SGRO.
"Pabrik memang jadi rencana kita jangka panjang, dengan investasi US$ 7-8 juta. Namun ke depan kita juga akan produksi ethanol. Tahap I baru hanya produksi tepung," imbuh Direktur, Corporate Affair SGRO Hadi Fauzan.
(wep/dnl)











































