Demikian disampaikan Direktur Utama MASA, Pieter Tanun, dalam paparan publik di Graha Niaga, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (10/6/2010).
Pieter menjelaskan, peningkatan produksi ini mulai akan dihasilkan dalam semester II-2010, dengan hadirnya mesin baru asal Jerman. Produksi ban mobil ditargetkan akan naik dari 2,5 juta ban di tahun 2009, menjadi 6 juta ban. Untuk ban motor juga akan naik menjadi 4,9 juta ban, dari posisi tahun sebelumnya, 1,4 juta ban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan peningkatan ini, dipercaya akan memperbaiki kinerja keuangan perseroan. Penjualan bersih diprediksi akan meningkat hingga Rp 2,2 triliun, dari posisi tahun 2009, Rp 1,69 triliun.
Laba perseroan juga akan meningkat, meskipun dalam pembukuan terjadi penurunan. Laba bersih tahun ini bisa mencapai Rp 152 miliar, akibat kenaikan permintaan ban untuk pasar Asia Pasifik.
"Laba kita tahun kemarin kan dibantu dari keuntungan kurs sebesar Rp 86 miliar, hingga tercatat Rp 231 miliar. Jadi tahun ini tetap akan ada peningkatan, menjadi Rp 152 miliar. bahkan tahun ini kami prediksi akan ada correct lost, Rp 30-40 miliar," paparnya.
Perseroan juga telah menganggarkan belanja modal (capex) sebesar US$ 150 juta di tahun ini. Hingga kini, dana belanja modal yang telah terpakai mencapai US$ 20 juta.
Selain itu, perseroan juga memiliki utang jatuh tempo di 2010 sebesar US$ 16 juta. Utang tersebut akan dilunasi setiap tiga bulan dan bersumber dari kas internal.
"Utang kitaΒ sebesar US$ 16 juta dari CIMB (Niaga) yang jatuh tempo tahun ini. Kita banyar US$ 4 juta tiap tiga bulan," ucapnya.
Ia menambahkan, MASA telah menyiapkan dana internal untuk melunasi utang tersebut.
(wep/dnl)











































