Tumpahan Minyak Mengganas, BP Diyakini Tidak Bangkrut

Tumpahan Minyak Mengganas, BP Diyakini Tidak Bangkrut

- detikFinance
Jumat, 11 Jun 2010 11:02 WIB
Tumpahan Minyak Mengganas, BP Diyakini Tidak Bangkrut
New York - Biaya penanganan tumpahan minyak di Teluk Meksiko mencapai miliaran dolar AS. Namun hal itu diyakini tidak akan membuat BP sebagai sebagai kontraktornya menjadi bangkrut. Perusahaan minyak asal Inggris itu masih punya banyak uang untuk mengatasinya.

Sejauh ini, BP sudah merogoh sekitar US$ 1,5 miliar untuk menangani tumpahan minyak di Teluk Meksiko tersebut. Jumlah tersebut diprediksi terus meningkat mengingat sampai saat ini masalah tersebut belum juga tuntas bahkan imbasnya semakin meluas.

Hal itu memunculkan spekulasi BP akan segera mendaftarkan perlindungan kebangkrutan untuk menghindari tuntutan hukum. Namun Fadel Gheit, analis dari Oppenheimer menepis spekulasi tersebut.Menurutnya, perlindungan kebangkrutan hanya akan masuk untuk melindungi aset dari kewajiban yang tidak terhitung dan pada saat yang sama mengurus bisnis tanpa ada gangguan tuntutan hukum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di tengah tekanan politik, Gheit meyakini, menjalankan perusahaan keluar dari bisnis tidak akan menyelesaikan masalah tumpahan minyak, menyelesaikan kewajiban kepada para penggugat, membantu 23.000 pekerja AS, atau bahkan para pensiunan.

Sementara analis dari Citigroup, Mark Fletcher menaikkan risiko peringkatnya terhadap BP dari medium ke tinggi. Hal itu didasarkan pada perkiraannya bahwa BP maksimal akan menurunkan nilai sahamnya hingga US$ 40 miliar.

"Kami menyadari bahwa sedikit kepastian ataupun definisi seputar biaya untuk penanganan tumpahan minyak tersebut kepada pemegang saham BP. Biaya dan beban yang ditanggung masih belum jelas, namun kami telah melakukan penyesuaian hingga 4 kali lipat yang kami yakini merupakan biaya paling masuk akal," ujar Fletcher seperti dikutip dari Forbes, Jumat (11/6/2010).

Fletcher juga mencatat kondisi keuangan BP masih sangat bagus. Saat ini total utang bersih BP diprediksi mencapai US$ 25 miliar, dengan underlying asset sekitar US$ 130 miliar tidak termasuk kontribusi dari AS.

Ia juga memperkirakan BP berhasil meraup cashflow hingga US4 40 miliar per tahun pada 2011-2013.

BP baru-baru ini memutuskan untuk tidak membagikan dividen, setelah pemerintah AS menegaskan BP harus menyediakan dana untuk menyelesaikan kewajibannya atas tumpahan minyak itu. Namun Fletcher mengatakan, secara finansial tidak ada alasan mengapa BP tidak bisa mengakomodasi pembagian dividen sekaligus membayar kewajibannya menyelesaikan tumpahan minyak.

"Meski tidak membayar (dividen), para pemegang saham masih menikmati pembayaran yang solid. Jika BP memutuskan untuk tidak membayar dividen pada kuartal II untuk memuaskan politisi, secara tahunan tingkat imbal hasil diprediksi masih tumbuh 6,8%," imbuhnya.

Krisis tumpahan minyak yang menjadi salah satu bencana terburuk di AS telah menggerus nilai saham BP. Pada perdagangan Kamis (10/6/2010), di bursa London, saham BP anjlok hingga 15,7% hingga terpuruk di bawah US$ 30 per lembar karena investor khawatir biaya penanganan masalah tumpahan minyak di Teluk Meksiko itu akan membengkak. Padahal 20 April, atau ketika terjadinya ledakan yang menyebabkan tumpahan minyak, saham BP berada di level US$ 60,48 per saham.

Kemerosotan saham BP terus berlanjut hingga perdagangan di Eropa. Di Bursa London, saham BP sempat anjlok ke 330 pence sebelum akhirnya membaik ke 372,4% atau turun 4,87% dibandingkan penutupan sebelumnya. Namun pada perdagangan Kamis (10/6/2010) di bursa Wall Street, saham BP Plc yang sempat terpuruk tajam akhirnya rebound 12,3%. (qom/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads