Pasar Finansial Mulai Tenang Hadapi Krisis Utang Eropa

Pasar Finansial Mulai Tenang Hadapi Krisis Utang Eropa

- detikFinance
Rabu, 16 Jun 2010 08:23 WIB
Jakarta - Setelah sempat gonjang-ganjing karena kekhawatiran dampak krisis utang di Yunani akan menyebar di Eropa, investor kini mulai tenang. Namun investor masih waspada dengan cara Eropa menyelesaikan krisis utangnya tersebut.

Ekonom dari Bank Danamon, Anton Hendranata menjelaskan, negara-negara Eropa, seperti: Yunani, Jerman, dan Perancis makin serius melakukan pemangkasan bujet dalam rangka mengurangi defisit bujetnya.

"Penyelesaian utang di kawasan Uni Eropa sudah mulai makin kelihatan arahnya. Akibatnya, Pasar agak sedikit tenang, walaupun masih was-was dengan penyelesaian kasus utang yang ada," jelas Anton dalam reviewnya yang dikutip detikFinance, Rabu (16/6/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, ada pekan pertama bulan Juni, tekanan terhadap potensi gagal bayar utang di negara-negara Eropa (PIIGS) agak berkurang. Rentang CDS-5 tahun cenderung mendatar dalam seminggu terakhir dan hanya naik tipis, walaupun Moody’s menurunkan peringkat utang Yunani hingga 4 level dari A3 menjadi Ba1, dengan outlook negatif pada tanggal 14 Juni 2010.

Bursa saham di Eropa relatif tenang dan cenderung sedikit membaik, begitu juga dengan mata uang Euro terhadap Dolar AS. Sementara Indeks harga saham naik 6,1% menjadi 2683 per 14 Juni dari 2530 per 7 Juni, sedangkan Euro menguat 2,5% menjadi 1,22 pada periode yang sama.

Sentimen positif kembali hadir pada Selasa (15/6/2010) kemarin dengan suksesnya lelang surat utang di Spanyol, Belgia dan Irlandia yang sekaligus mengikis kekhawatiran seputar krisis utang Eropa. Hal itu juga menyebabkan mata uang tunggal euro menguat dan harga komoditas naik.

Bursa Wall Street pun langsung merespons positif. Pada perdagangan Selasa (15/6/2010), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup menguat hingga 213,88 poin (2,1%) ke level 10.404,77. Sementara mata uang tunggal, menguat hingga di atas 1,23 dolar, yang merupakan level tertinggi sejak 3 Juni.

Ekonom dari Bank Danamon lainnya, Helmi Arman menjelaskan, kondisi pasar Eropa yang mulai positif dalam seminggu terakhir juga telah meredakan gelombang flight-to-quality menuju asset-aset dolar AS.

"Akibatnya, sebagian besar mata uang utama dunia (G6) cenderung menguat terhadap Dolar AS. Begitu juga dengan tekanan permintaan terhadap obligasi pemerintah AS mereda. Imbal hasil US T-note 10 tahun cenderung mengalami kenaikan, di mana sebelumnya sempat turun sangat tajam. Kondisi yang positif ini juga dapat dilihat dari tertahannya kenaikan suku bunga LIBOR 3 bulan," urai Helmi.

Angin positif dari Eropa tersebut juga telah menyejukkan pasar saham dan mata uang di Asia, termasuk Indonesia. Tekanan arus modal keluar mereda di pasar saham dan nilai beli bersih investor asing dalam zona positif.Hal tersebut pada akhirnya memberikan momentum yang baik untuk Rupiah.
 
"Dengan melihat tren jangka pendek pergerakan Rupiah dan indeks dolar AS, sentimen global terutama di Eropa, dan arus modal di pasar saham dan SBI di Indonesia, Rupiah bisa cenderung mendatar atau menguat tipis terhadap dolar AS dalam seminggu ke depan," jelas Helmi.

Namun ia mengingatkan, risiko terjadinya unwinding lanjutan oleh investor asing dari aset-aset jangka pendek seperti SBI dan saham yang bisa berakibat tertekannya nilai rupiah masih akan tetap ada.


(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads